Tentang Internet Marketing | |
Kedua kosa kata ini berasal dari bahasa Inggeris. Keduanya dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai (1) penambahan (2) perluasan. Jika Anda seorang tauke yang sudah membuka toko di Joglo lalu membuka satu toko lagi di Meruya, itu namanya ekspansi. Anda melakukan penambahan maupun perluasan usaha di luar wilayah usaha Anda semula. Jika Anda meluaskan toko yang di garasi lalu disatukan dengan kamar anak Anda di belakangnya, itu namanya ekstensi. Penambahan ataupun perluasan usaha juga namanya dalam bahasa Indonesia.
Ekspansi berarti menambah ataupun meluaskan usaha dengan cara merambah pasar baru di luar yang sudah ada. Sedang ekstensi menambah luas usaha tanpa merambah wilayah baru. Ekstensi itu memaksimalkan pasar yang sudah terbentuk. Sedang ekspansi meluaskan cakupan usaha dengan merambah ke berbagai wilayah -bahkan berkilo-kilometer dari tempat usaha Anda semula. Jika sebuah bank berekspansi itu artinya bank tersebut membuka kantor cabang baru. Sedangkan bank tersebut dikatakan melakukan ekstensi jika semula waktu operasional mulai pukul 09.00 pagi sampai 17.00 menjadi 08.00 sampai dengan 18.00.
Demikian pula Anda. Jika semula hanya berjualan dari pukul 07.00 sampai dengan 18.00 setiap hari kemudian menjadi mulai pukul 06.00 sampai dengan 22.00, Anda melakukan ekstensi. Artinya toko Anda buka lebih lama. Bisa juga, Anda rubuhkan kamar yang semula dipakai anak Anda dan menyambungkan dengan kios yang berada di garasi, usaha Anda itu disebut juga ekstensi. Namun, jika semula Anda hanya berjualan dari rumah tetangga ke tetangga lainnya, dari teman sekantor ke teman sekantor lain, dari saudara satu ke saudara satunya, kemudian Anda memutuskan keluar dari kantor Anda agar dapat berjualan ke tetangga lain di seluruh wilayah kota, maupun ke seluruh karyawan perkantoran di kota Anda, usaha Anda itu namanya ekspansi. Anda perlu tahulah istilah bisnis ini biar tak salah ucap.
Tapi, sebaiknya berpikirlah beberapa kali dahulu sebelum Anda memutuskan keluar dari kantor lama Anda sebelum berbisnis atau mencari pekejaan lain. Apa pun alasannya. Sebab, saat ini, buat perusahaan jauh lebih mudah mencari pengganti Anda, ketimbang melepas Anda. Satu karyawan keluar, sudah ada ribuan pengganti Anda. Kecuali Anda yakin mendapatkan pesangon yang lumayan besar yang tak habis sampai waktu pensiun tiba. Kalau tidak, lebih baik Anda konsentrasi meningkatkan karir di kantor lama Anda sembari mengembangkan bisnis pribadi di luar kantor. Bagi-bagi waktulah. Asal jangan korupsi -termasuk korupsi waktu bekerja. Jadi, sewaktu bekerja di kantor lama, jangan gunakan fasilitas kantor untuk bisnis Anda. Memangnya Anda mau membuat toko sendiri dalam toserba ya? Iya kalau kantor Anda sebesar toserba. Kalau tidak, mau ditaruh di mana toko dalam toko Anda itu?
Lagi pula, berbisnis itu sungguh-sungguh tidak mudah. Tak ada jaminan pasti sukses. Gagal pasti, sukses walllahualam. Jaman sulit begini, lebih gampang melepas pekerjaan daripada mendapatkan pekerjan baru. Bahkan sebagian orang berpendapat, jauh lebih mudah mencari istri baru ketimbang cari pekerjaan anyar. Begitu pula, bagi perempuan jaman sekarang, lebih mudah melepaskan suami yang gombal dan keesokan hari menggandeng suami baru, daripada menjaga suami macam Anda yang cuma jadi keset. Kalau mencari pekerjaan, sih, banyak. Namun yang memberikan pekerjaan sekaligus gaji itu yang rada susah belakangan ini. Apalagi kalau Anda mencari istri yang cuma Anda kasih "jatah harian" di ranjang saja, tanpa Anda kasih jatah uang bulanan. Janganlah menyalahkan perempuan itu materialistis. Kalau Anda memang bokek jangan mengkhayal punya istri mirip Olga Lidya -kecuali Anda itu Samsons yang memang pandai bernyanyi, "Aku adalah lelaki yang pantang menyerah kepada setiap wanita." Anda bukan Bams kan?
Jadi, kalau Anda hendak mencari istri baru, maaf keliru. Kalau Anda mau melakukan ekspansi maupun ekstensi usaha itu karena telah memiliki dahulu setidaknya sebuah usaha yang sudah memiliki (1) sesuatu yang dijual (2) ada pembeli. Kalau belum punya barang dagangan atau pelayanan yang mau Anda tawarkan, maupun Anda tak tahu calon pembeli, tiba-tiba Anda mengatakan akan melakukan ekstensi maupun ekspansi, yang benar saja dong. Memangnya apa yang mau Anda jual? Diri Anda? Siapa yang mau bayar?
Begitu pula jika Anda akan melakukan ekspansi usaha -baik sebagai netpreuner maupun internet marketers- terlebih dahulu Anda telah memiliki (1) komoditas (barang atau jasa) yang hendak dipasarkan (2) calon pembeli maupun pengguna yang menjadi sasaran komoditas yang Anda pasarkan melalui internet. Nah, kalau Anda belum punya, janganah cuma karena banyak teman lain berbisnis di internet, Anda latah alias ikut-ikutan doang. Capek deh.
Sebaiknya Anda jangan melakukan hal itu -baik ekspansi maupun ekstensi. Kecuali Anda itu para pengelola Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Di Indonesia ini -juga berbagai Perguruan Tinggi dari luar negeri- sudah kerap melakukan ekstensi dan ekspansi bisnis mereka. Di mata para pengelola perguruan tinggi ini, pendidikan itu tidak lain semata-mata hanyalah bisnis alias dagang. Jadi, pendidikan pun patut dikelola secara dagang alias bisnis.
Alasan mereka kalau tidak dikelola secara dagang, tentu perguruan tinggi tak akan mampu swadaya. Kata para politisi, hal ini akan menjadikan Perguruan Tinggi terus-menerus menggerogoti keuangan negara. Padahal, kalau uang negara tersebut mereka gerogoti, ya, mereka diam saja tuh. Tapi, kalau membuat anggaran pendidikan di atas 20% -agar pengetahuan, keterampian, dan keahlian rakyat meningkat- tentu keberatan. Ada saja alasan mereka. Aneh. Rakyat menginginkan pendidikan yang baik untuk masa depan mereka (dan tentunya bangsa ini) tidak digubris. Sementara lahan hutan seenaknya boleh dikapling buat dijarah oleh perusahaan pertambangan. Negeri ini memang penuh keanehan.
Soal ekspansi perguruan tinggi asing di Indonesia. Apakah para pembuat kebijakan tak tahu jika perguruan tinggi dari mancanegara melakukan ekspansi ke luar negaranya itu hanya dalam rangka dagang pula. Yakni agar banyak mahasiswa asing yang tertarik kuliah di negara asal perguruan tinggi tersebut. Termasuk memberikan bantuan pinjaman kepada sebuah negara agar negara yang diberikan pinjaman (ingat ini pinjaman bukan pemberian) mampu mengirim mahasiswa untuk kuliah di negeri asal pemberi pinjaman.
Jadi, negara kaya yang memiliki sejumah universitas terkemuka memberikan pinjaman kepada negara berkembang agar negara yang diberikan pinjaman mampu mengirimkan mahasiswa (yang umumnya Pegawai Negeri) untuk kuliah di negeri pemberi pinjaman tersebut. Nanti sepulang dari kuliah, ilmu yang didapat mahasiswa (yang umumnya PNS) tersebut dapat diterapkan atau tidak, urusan lain. Lihat saja tumpukan master maupun doktor dari PNS di berbagai departemen. Saking pintarnya, mereka ditempatkan di bagian litbang alias sulit berkembang. Tanpa disediakan dana memadai guna mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat dari kuliah di luar negeri dengan uang pinjaman tadi. Memang siapa yang membayar pinjaman tersebut? Lagi-lagi rakyat melalui berbagai pungutan pajak.
Berbagai Perguruan Tinggi di dalam negeri pun melakukan hal sama. Tapi, pergurun tinggi lokal tentu saja tidak melakukan ekspansi ke luar negeri. Cukup di dalam negeri saja. Jadi, selain melakukan ekspansi usaha dengan membuka berbagai perkuliahan di luar kota kampus induk, perguruan tinggi lokal ini pun menyelenggarakan berbagai program ekstensi.
Maksudnya menambah jumlah bangku kuliah. Jadi, buat mereka yang tak lulus saringan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) masih punya kesempatan kuliah di PTN melalui program ekstensi ini. Jika semula program ekstensi dikhususkan kepada pegawai (baik swasta ataupun PNS/TNI) dan dengan jurusan khusus pula, saat ini, hampir semua jurusan memiliki program ekstensi. Perkuliahan pun tak berbeda dengan kuliah program reguler (bagi mereka yang lulus UMPTN).
Jadi, siapa pun, termasuk Anda -sepanjang mampu membayar biaya kuliah- dapat ikut program ekstensi ini. Pendek kata, ada duit, anak Anda bisa kuliah. Kalau Anda tak punya duit untuk membayar kuliah, sebaiknya segera carikan pekerjaan anak Anda itu. Biaya kuliah sekarang ini sudah alang-kepalang mahal. Belum tentu pula, nanti seusai kuliah, anak Anda itu siap bekerja dan diterima bekerja. Kecuali bisnis internet Anda sukses. Sehingga kelak anak Anda dapat meneruskan. Kalau tidak, jangan harap anak Anda akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan.
Saran saya sejak sekarang Anda bersungguh-sunguhlah menjadi netpreuner maupun internet marketers. Sehingga jika kelak anak Anda membutuhkan biaya kuliah, Anda tak perlu bingung lagi cari utangan. Anda tentu bakal kerepotan jika tiap semester cari utangan buat bayar kuliah anak Anda.
Buat kebanyakan orang adanya program ekstensi maupun ekspansi perkuliahan sangat membantu. Apalagi mereka yang bekerja dan dinilai berdasarkan ijazah yang dimiliki. Meskipun mahal, yang penting punya ijazah sarjana: S1, S2, maupun S3. Kalau perlu es lilin juga sabet saja ketimbang kehausan. Bukan haus ilmu, tapi nyata-nyata tanpa ijazah sarjana, karir akan mandek. Karena itulah, adanya kebijakan yang memudahkan setiap perguruan tinggi membuka program ekstensi maupun ekspansi ini, ijazah sarjana pun menjadi mudah didapat. Bahkan tak jarang cukup dengan satu semester mengikuti perkuliahan, Anda bisa diwisuda dan mendapat gelar Doktor. Hebat ya!
Tanpa perduli dari mana ijazah sarjana tersebut diperoleh, Anda sudah dapat mencantumkan gelar kesarjanaan di depan nama Anda. Perkara cuma nama Anda bertambah panjang karena adanya gelar tesebut, namun pengetahuan maupun keahlian tak bertambah sedikit pun seusai perkuliahan dan diwisuda, itu urusan lain. Yang penting biro kepegawaian sudah melihat lampiran foto copy iazah sarjana yang telah dilegalisasi pejabat berwenang. Jika suatu saat kelak ketahuan ijazah tersebut palsu, Anda masih bisa tenang dan mengatakan, "kan sudah dilegalisasi." Aman-aman sajalah.
Nah, jika Anda hendak berbisnis di internet, jangan coba-coba menjual ijazah kesarjanaan Anda. Paling bisa Anda gadai saja barangkali butuh sebagai agunan tambahan modal. Jika Anda memang ahli dalam suatu bidang, ya, semua netter tahu itu. Anda tak akan ditanya soal ijazah. Jadi, meskipun Anda punya sederet gelar kesarjanaan, namun tolol, ya, semua penghuni internet juga tahu kalau Anda cuma banyak gelar semata.
Tanyakan kepada Bill Gates, dari manakah dia mendapat ijazah kesarjanaan? Tentu dari banyak universitas. Sebab, dia banyak menerim gelar Doktor Honoris Causa -sebuah gelar penghargaan non-akademik atas prestasi seseorang dalam membantu universitas tersebut atau mendukung perkembangan suatu cabang keilmuan yang secara tradisi diberikan unversitas kepada seseorang yang dianggap pantas menerima hal itu.
Tapi, Bill Gates tidak pernah mendapatkan ijazah sarjana apa pun karena memang tak sempat menyelesaikan perkuliahan. Namun, sekarang dia banyak merekrut banyak orang pandai termasuk sarjana agar bisnisnya ditangani oleh ahlinya. Gates memang beruntung karena memiliki ibu yang bekerja di IBM ketika ia pertama kali mengembangkan DOS.
Selain itu, dia juga beruntung karena mampu mengumpulkan para ahli yang dia bayar untuk mengembangkan bisnisnya. Jadi, kalau Anda tak seberuntung dan sungguh-sungguh berniat mengembangkan bisnis di internet sebagaimana Gates, sebaiknya Anda bayar ahlinya. Kecuali Anda seberuntung Gates dan memang tahu berbisnis internet.
Atau Anda merasa yakin dapat menipu banyak orang di internet ini -dan tak ketahuan. Sebagaimana yang dilakukan jaringan sejumlah penipu di internet. Mereka menjual mimpi bahwa jika ikut dalam jaringan mereka, Anda dapat menjadi kaya raya. Cukup hanya bekerja dari rumah di depan komputer. Pertanyaannya apa yang Anda lakukan untuk menjadi kaya dari rumah di depan komputer? Menawarkan kepada banyak orang lain agar berbuat seperti Anda. Yakni menipu banyak orang agar bekerja sebagaimana mereka yakni menjual e-Book yang berisikan panduan menipu orang lain. Tentu bukan itu yang akan Anda lakukan.
Kaidah berusaha -baik di internet maupun tidak menggunakan internet- sama saja. Anda tak akan mendapatkan apa-apa kecuali bekerja keras mendapatkan apa pun yang Anda inginkan. Tak ada hasil, tanpa pengorbanan. No pain, no gain. Apa Anda kira berusaha di internet hanya cukup dengan memengaruhi orang agar membeli e-Book (yang berisi panduan menipu orang lain lagi) kemudian uang mengalir dengan sendirinya? Tanyakan kepada mereka yang menawarkan e-book tersebut berapa orang yang telah membeli e-Book mereka. Itulah jumlah orang yang telah kena tipu.
Apa Anda mau mengikuti jejak mereka. Ingat internet ini mesin yang sangat baik dalam merekam perilaku Anda. Perilaku Anda tercela, seluruh penghuni internet dengan mudah mengetahuinya. Maka hilangkan keinginan menjadi anggota gang MEOK (Makan Enak Ogah Kerja keras) tersebut. Lebih baik Anda memelajari sungguh-sunguh cara sukses menjadi netpreuner dan internet marketer dari sekarang. Sebab, globalisasi itu sudah tampak di pelupuk mata. Anda terlelap sedikit, bisnis Anda akan tersalip pesaing Anda yag datang dari belahan dunia mana pun. Tidak sekadar tetangga yang benar-benar Anda kenal.
Jaringan internet
Kehadiran internet sebagai wahana komunikasi -baik untuk berbagai kepentingan sosial, pendidikan, bisnis, militer, pemerintahan yang dilakukan lembaga/institusi maupun perorangan- telah nyata memberikan kemudahan. Internet telah mengefisiensikan pekerjaan. Kapan pun dan di mana pun seseorang berada, dapat dengan mudah terhubungkan oleh internet -sepanjang orang tersebut terhubung dengan dengan internet tentunya. Jaringan internet ini semula dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan sekutunya guna memelihara jaringan komunikasi militer dan intelejen mereka.
Di tahun 60-an ketika Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet masih kuat, Pemerintah AS membangun sebuah jaringan komunikasi yang terdiri dari ribuan komputer raksasa yang ditempatkan di bebagai belahan dunia. Hal ini guna menangkal akibat serangan nuklir (yang dikirakan terjadi) yang dapat melumpuhkan jaringan komunikasi militer dan intelejen. Dengan adanya jaringan komunikasi ini, meski satu lokasi diserang nuklir, komunikasi masih tetap terjaga. Sebab, jaringan komputer lain yang berada di lokasi lain yang tersisa masih dapat berfungsi.
Lambat laun, kalangan di luar militer dan intelejen -terutama para ilmuwan dan akademisi- melihat manfaat jaringan komunikasi militer dan intelejen AS tersebut apabila digunakan untuk kepentingan pendidikan dan sosial. Maka, kemudian Pemerintah AS pun membuka koneksi jaringan komputer militer dan intelejen ini untuk kepentingan non-militer terutama pendidikan dan pemerintahan sipil. Pada akhirnya, kalangan bisnis pun melihat potensi jaringan komputer maha luas ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan komunikasi bisnis. Maka sejak tahun tengah 1980-an, internet pun sepenuhnya digunakan sebagai wahana komunikasi non-militer terutama sosial, pendidikan, pemerintahan, dan bisnis.
Seiring dengan perkembangan teknologi komputer yang makin mudah digunakan siapa pun, ringan dan murah, perkembangan pengguna internet ini pun makin mendunia. Dan, komunitas pengguna internet ini pun semakin beruntung karena adanya penemuan seorang sarjana Swedia. Sebab, dialah yang yang menemukan teknologi guna menemukan lokasi alamat seseorang ataupun institusi yang terdaftar di internet. Yakni adanya penemuan www. (world wide web). Dengan adanya panduan tersebut, alamat lokasi di internet dengan mudah terdaftar dan ditemukan.
Pendek kata, revolusi yang terjadi akibat kehadiran internet ini telah mengubah wajah dunia kita hari ini. Thomas L. Friedman, penulis buku "The World is Flat" mengatakan, "dunia ini rata akibat kehadiran internet. Revolusi akibat internet memberikan wajah berbeda bagi dunia yang kita huni dewasa ini."
Tentu saja kata rata tersebut sebuah metafora. Dunia ini masih tetap bundar kok bak bila basket. Yang dimaksud Pak Friedman ini, internet telah mengubah dunia menjadi tanpa tapal batas geografis. Manusia di belahan bumi mana pun dapat terhubung secara seketika (real time) dengan manusia lain yang berada di belahan bumi lainnya. Dunia menjadi rata, tanpa ada sekat. Tentu saja fenomena ini mengubah sikap dan perilaku manusia. Bahkan kehadiran internet telah mampu merubah sikap budaya manusia sejagat. Globalisasi menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Sebagaimana dalam puisi berikut:
Like Abel and Cain
- a poem by Avian Dewanto
What is your shampoo? What is your gums? What is your snacks? What is your clothes? What is your gadgets? What is your movie? What is your wives? Is it come from your neighbor’s tv? Like Abel and Cain?
Namun, meski "shampoo, permen, keripik, pakaian, peralatan, tontonan, bahkan istri" yang kita lihat sehari-hari secara budaya telah mengikuti selera global, tidak berarti perilaku manusia ikut berubah. Karena itu, kemampuan mengetahui perbedaan budaya dalam berbisnis internet menjadi mutlak diperlukan.
Meski telah hidup dalam gaya global, toh, selera makan tetap saja sama. Seperti saya ini, kalau belum makan nasi seharian, selalu bilang belum makan. Apalagi kalau belum makan jengkol balado sampai sebulan, rasanya badan menjadi keringat dingin. Jadi, pengetahuan akan perbedaan budaya ini akan sangat bermanfaat buat Anda yang berbisnis internet.
Katakan saja, pengetahuan perilaku para netter (pengguna internet). Umumnya mereka ini baru leluasa berkelana di internet sepulang bekerja sehari-hari. Bahkan kalau dia sudah berkeluarga dan punya anak kecil, baru dapat berselancar di dunia maya setelah semua penghuni rumah terlelap. Itu artinya malam hari.
Coba Anda bayangkan, dia membuka situs yang kebetulan milik Anda. Sementara itu, untuk memikat pengunjung situs, Anda telah sisipkan musik menghentak-hentak. Nah, saya yakin pengunjung situs Anda ini kontan terkaget-kaget dan keluar dari situs Anda. Sebab, suara musik yang Anda pasang di situs Anda, menurut dia, dapat membangunkan seisi rumah yang sudah terlelap. Maka Anda pun kehilangan seorang calon pembeli gara-gara memuat lagu di situs Anda tersebut. Hal seperti itu perlu mendapat perhatian para pebisnis internet.
Berbisns di internet pun bukan tanpa resiko. Sebab, meski budaya telah menjadi global, tetap saja, mereka yang tak takut akan Allah berperilaku seperti sedia kala. Sedang mereka yang takut terhadap Allah pun tak banyak bertambah -kalau tak mau dikatakan semakin berkurang. Dunia ini, meski nyata telah terjadi globalisasi dengan kehadiran internet, tetap saja dihuni oleh dua kelompok tersebut: Mereka yang takut akan Allah (fear of God) dan mereka yang tak takut akan Allah (no fear of God) -terlepas dari apa pun kepercayaan mereka kepada Tuhan bahkan jika di antara mereka yang tak percaya kepada Allah, tetap saja manusia terkelompok besar seperti itu.
Tidak berarti kehadiran internet peristiwa Abil dan Kain tak lagi pernah terjadi. Ingatkah Anda akan pembunuhan manusia yang pertama kali terjadi di muka bumi ini? Apa penyebabnya? Rakus? Karena rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri? Hari ini pun masih saja terjadi. Apakah kemudian manusia juga tak tahu soal umat Nabi Luth? Bohong besar kalau mereka tak pernah tahu kisah mengerikan itu. Yakni ketika Allah menyiramkan virus mematikan kepada seluruh kaum yang semasa dengan Nabi Luth -termasuk istri dan anak Nabi Luth. Tahukan mereka itu ratusan tahun lamanya banyak orang menderita akibat terserang virus siphilis (gonorrhea)? Kita dengan mudah melupakan peritiwa ratusan tahun lamanya umat manusia menderita sebelum vaksin penicilin ditemukan. Sebagaimana tergambar dalam puisi ini:
Annus Mirabilis
-a poem by Philip Larkin
Sexual intercourse began In nineteen sixty-three (which was rather late for me) - Between the end of the Chatterley's ban And the Beatles’ first LP.
Up till then there’d only been A sort of bargaining, A wrangle for a ring, A shame that started at sizteen And spread to everything.
Then all at once the quarrel sank: Everyone felt the same, And every life became A brilliant breaking of the bank, A quite unlosable game.
So life was never better than In nineteen sixty three (Though just to late for me) - Between the end of the Chatterley's ban And the Beatles’ first LP.
Berapa lama lagikah umat manusia dewasa ini menderita di bawah ancaman penyebaran virus HIV sebelum vaksin antivirus HIV ditemukan? Ingat penderitaan tersebut tidak hanya ditanggung oleh penderita yang bersangkutan. Mereka yang tak punya kaitan apa pun dengan dosa yang dilakukan sebagaimana kaum Nabi Luth pun dapat terkena getahnya. Termasuk bayi yang baru lahir sekali pun.
Apa tidak lebih baik kita berpikir ulang untuk sebaiknya "takut akan Allah" ketimbang menjadi seseorang "tak takut akan Allah." Sebab, perilaku menyimpang Anda itu tidak hanya merugikan Anda seorang mapun keluarga Anda. Tapi, perilaku menyimpang itu bisa berakibat pula kepada mereka yang tak terkait dan berbuat seperti Anda bahkan seorang bayi yang baru lahir sekali pun. Sebagaimana tergambar dalam puisi berikut:
This Be The Verse
- a poem by Philip Larkin
They fuck you up, your mum and dad. They may not mean to, but they do. They fill you with the faults they had And add some extra, just for you.
But they were fucked up in their turn By fools in old-style hats and coats, Who half the time were soppy-stern And half at one another’s throats.
Man hands on misery to man. In deepens like a coastal shelf. Get out as early as you can, And don’t have any kids yourself.
Nah, jaringan internet ini pun tak pelak membawa ekses negatif. Terutama perihal menontonkan syahwat. Banyak orang yang menyalahgunakan teknologi internet termasuk mereka yang menyebarkan material pornografi. Dan tak sedikit pula yang menjadikan internet sebagai wahana memangsa bagi kepuasan seksual.
Namun, sekali lagi tujuan kita berbisnis di internet itu untuk ekspansi bisnis dan pemasaran. Bukan menjadi pemangsa (predator) seksual apalagi terhadap anak di bawah umur. Meski kabarnya situs esek-esek ini lebih populer, Anda toh tak berniat ikut terjun di dalamnya. Kecuali Anda memang berniat menjual diri Anda, suami/istri Anda, bahkan anak-anak Anda.
Ekspansi bisnis di internet
Internet itu hanyalah wahana. Tak lebih dari itu. Benar karena internet berbeda dengan wahana penyampai pesan lainnya -antara lain, town crier, radio, media cetak, televisi, dan film- maka berbisnis di internet pun -baik sebagai netpreuner dan intenet marketer- tentu berbeda. Tiap medium (alat perantara penyampai pesan) memiliki karakter unik yang berbeda satu sama lain. Dan, hal itu memerlukan perbedaan perlakuan pula. Karena itu, pebisnis ataupun pemasar yang menggunakan internet perlu mengetahui dengan cermat kiat berbisnis di internet. Berdasarkan karakter internet sebagai wahana penyampai pesan.
Jadi, niat menggunakan internet sebagai wahana ekspansi bisnis dan pemasaran itu disebabkan keinginan meluaskan pasar. Ingat internet itu akan membawa pesan bisnis dan pemasaran Anda sampai ke belahan dunia mana pun. Tidak hanya pada skala lokal atau domestik. Tapi, bisnis Anda akan dibawa internet sampai mendunia, global.
Boleh saja untuk pertama kali Anda menetapkan perluasan bisnis dan pemasaran di internet hanya sebatas skala domestik (dalam negeri) ataupun regional (beberapa negara tetangga). Namun, apa pun yang akan Anda lakukan, semua bersandarkan kepada niat meluaskan pasar. Jadi, meskipun Anda akan sepenuhnya berbisnis di internet, sebaiknya Anda telah terlebih dahulu menjalankan bisnis tersebut dalam dunia nyata. Baru kemudian Anda luaskan bisnis dan pemasarannya di dunia maya menggunakan sarana internet.
Sekali lagi wahana internet itu bukan segala-galanya. Tapi, memang potensi pasar yang terdapat di internet sungguh menggiurkan buat para pebisnis. Bayangkan, untuk skala Indonesia saja akan ada sekitar 150 juta orang pengguna internet pada 2015, begitu laporan Departemen Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia baru-baru ini.
Andaikata 10% dari angka tadi itu pebisnis internet, Anda tentunya tinggal mencari tahu apa saja kebutuhan mereka itu. Bilamana pebisnis internet tersebut membelanjakan uangnya rata-rata Rp 1 juta per bulan, tentu Anda sudah mendapat gambaran skala bisnis di internet. Tapi, itu tentunya semua perlu kerja keras untuk sukses. Jangan Anda tertipu oleh kalimat "hanya dengan membeli e-Book, Anda kontan dapat kaya raya." Bohong itu.
Selamat berbisnis internet.
Innalillahi wa innalillahi rojiun,
Telah berpulang ke rahmatullah: Gindarto Danardono (Alumnus SMA Negeri 8 Jakarta Tahun 1980.)
Kemarin, Kamis, sahabatku sejak di SMA Negeri 8 Jakarta telah berpulang. Hari ini, Jumat tadi, jasadnya telah dibaringkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Bintaro, Jakarta.
Aku memang tak sempat takziah ke Jakarta. Tapi, aku yakin, dengan segala perbuatan baik yang dilakukan Almarhum semasa hidup akan membawa dirinya ke sisi Allah SWT.
Selamat jalan sahabatku, Gindarto Danardono. Aku yakin akan menyusul pula. Cepat atau lambat, waktuku kan tiba jua.
Tulisan yang aku buat ini sudah selesai ditulis sebelum mendengar berita tentang wafatmu. Tapi dorongan menulis tulisan ini sebagian karena rasa bersalah yang tak terhingga karena kealpaan mengatur waktu. Seharusnya aku mampu bertahan melakukan silahturahmi cara lama: Tatap muka. Tapi itu tak aku lakukan. Bukan menyalahkan diri ini karena keranjingan internet. Tapi, karena aku saja yang memang tak tahu diri. Maafkan aku.
Avian Dewanto
+++++
Sekitar 1994, saat mulai membangun bisnis properti di Surabaya, saya banyak menghabiskan waktu, tentu saja, di Surabaya daripada di Jakarta. Kalau masih banyak pekerjaan yang belum selesai di hari Jumat, dan malas pulang ke Jakarta, pada akhr pekan, saya menyempatkan bertandang ke beberapa teman lama di Malang. Maka jika tak pulang ke Jakarta, jadiah saya kongkow bersama beberapa teman lama di Kota Malang. Lumayanlah. Bertemu teman lama yang kebanyakan berprofesi sebagai seniman dan bergiat di Dewan Kesenian (Kota) Malang.
Macam-macam seni yang mereka geluti. Kebanyakan Seni Lukis. Pembicaraan pun seputar kegiatan seni lukis. Kadang pembicaraan mengenai kegiatan seni lainnya: Teater dan Seni Pertunjukan. Sayangnya sedikit sekali di antara temanku ini yang menggeluti seni tulis-menulis -kalau enggan dikatakan sastra. Padahal di sebuah kota berbudaya jika seni sastra atau tulis-menulis tak berkembang, hampir dapat dipastikan kesenian lain pun terimbas. Sebab siapa yang sudi menulis tentang kegiatan kesenian dan budaya di suatu kota apabila bukan warganya sendiri.
Berharap penulis daerah lain menulis tentang sesuatu di luar daerahnya, tentu saja sulit. Tapi, Malang masih beruntung. Komunitas Pelangi di bawah pimpinan Mbak Ratna Indraswari Ibrahim di Jalan Diponegoro, Malang, masih terus bergeliat. Masih ada yang yang dapat diberitakan.
Pada tahun itu pula, saya teringat beberapa teman yang bergiat di DKM mendapatkan pekerjaan -lebih tepat dikatakan sebagai proyek- merancang jejeran kios pedagang kaki lima (PKL) yang menjual makanan dan minum. Menarik diskusi mereka. Dari mulai perencanaan arsitektur bangunan sampai dengan biaya yang akan ditanggung Pemkot dan masing-masing PKL.
Tapi, ada yang lebih menarik buat saya daripada hal teknis semacam itu. Yakni, aturan yang melarang tegas para PKL bertempat tinggal di tempat mereka berjualan. Aturan ini, kata yang menggagasnya, menghindari tempat berjualan menjadi kumuh. Para penggagas itu pun bersikukuh, sikap dan perilaku para PKL tersebut perlu pula berubah. Mereka perlu menyisihkan antara waktu pribadi dan berusaha. Gagasan itu dalam kalimat lebih mentereng: Guna meningkatkan profesionalitas para PKL dalam bekerja dan berusaha.
Gagasan tersebut sungguh menarik. Bagaimana pengusaha -meskipun Pedagang Kaki Lima tetap saja mereka pengusaha dan perlu mendapat perhatian. Karena membayar pajak kepada Negara dan retribusi kepada Pemkot yang setoran mereka ini kerap dikorup- secara disiplin mengatur waktu antara bekerja (baca: berusaha) dan kegiatan lain di luar bekerja. Toh, sebagai manusia -apa pun profesi yang ditekuni- butuh sosialisasi dan rekreasi. Bahasa awamnya, tiap orang butuh bertemu dengan orang lain dan suasana lain.
Bayangkan saja -silakan Anda ambil waktu untuk membayangkannya sendiri- jika seseorang tiap hari dari mulai terbit matahari sampai tengah malam hidup hanya mengurusi usahanya. Tanpa waktu tersisa untuk diri sendiri, keluarga, silahturahmi dengan orang lain, bahkan tak punya waktu sekadar menyehatkan mata melihat pemandangan langit. Sibuk bekerja di sepanjang waktu, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Bahkan sebagaimana sudah terbukti di sejumlah kios PKL lainnya, beranak pinak pun mereka lakukan di kios mereka. Sebesar apa pun kios tersebut, tentu saja melakukan hubungan suami istri di kios bisa jadi "kabar burung menarik" buat banyak orang. Iya, kalau itu burungnya sendiri. Bagaimana kalau burung orang lain? Maksudnya kalau yang melakukan itu sebagai suami istri, masih oke. Tapi, bagaimana kalau yang melakukan kegiatan rekreatif seksual tersebut bukan suami istri? Tambah runyam lagi. Sebab, lambat laun kios makanan dan minuman berubah fungsi menjadi rumah bordil.
Alasan penolakan PKL agar dapat bertempat tinggal di kios juga bisa dibilang "masuk akal." Entah akalnya siapa. Tapi jelas menurut saya, sih, akal-akalan saja. Sebab, dengan beranak pinak di kios tersebut, mereka katanya dapat menghemat ongkos transpor. Apabila tidak tinggal di kios PKL sendiri, tentu mereka perlu menghitung sewa rumah (apabila masih sewa) dan transpor harian pulang pergi dari rumah ke kios. Tapi semua alasan tersebut tidak digubris. Bagi PKL yang tidak setuju, silakan tidak mendaftar. Bagi yang setuju untuk tidak menggunakan kios sebagai rumah tinggal, silakan daftar. Terkadang bersikap tegas dalam menegakkan peraturan diperlukan.
Repotnya peraturan terpaksa perlu dibengkok-bengkokan lantaran ada kepentingan politik di dalamnya. Ngono, yo, ngono, yen ojo ngono. Apa sih? Gak mudeng banget. Nah, kalau bangsa Indonesia mau maju, sebaiknya mulai terbiasa mengatakan, "Call a spade, a spade." Mumpung Presiden kali ini suka banget kosa kata asing, Anda silakan kasih tahu istilah tersebut kepada Beliau. Atau, kalau Anda tak sempat, kirim SMS yang pernah digembar-gemborkan itu yang kini tak jelas juntrungannya.
Jangan sampai hanya berlagak berkantor di Surabaya selama dua hari untuk menuntaskan pembayaran ganti rugi (benar-benar merugikan semua orang di Jawa Timur lho) tapi sampai sekarang pun tak jelas mana gantinya. Yang ada hanyalah kerugian secara kasat mata. Kerugian moral dan material yang diderita rakyat akibat semburan liar galian Porong.
Apa karena tak enak sama Bos yang dulu membayari biaya kampanye? Lagi-lagi kepentingan politik diri sendiri kan. Perkara rakyat menderita, ya, sabodo amat. Yang penting selama jadi politikus, bisnis tambah jadi sejahtera dan merambah ke mana-mana. Perkara kesejahteraan rakyat? Kami dulu dong yang sejahtera. Kalau kami sejahtera tentu dengan sendirinya rakyat sejahtera. Sebab, ketika pemilu nanti uang hasil bisnis bisa untuk menyejahterakan rakyat. Rakyat siapa? Ya, rakyatnya sendiri. Rakyat lainnya, ya, gigit jari sajalah. Salahnya sendiri, kata mereka, kenapa kalian tak jadi rakyatKu? Makanya sebagai rakyat, harus pandai-pandailah, jangan sesekali memilih partai atau ada nama politikus yang busuk macam itu. Sekali lagi, kita bukan rakyat mereka.
Karena PKL itu rakyat, maka mereka pun mengikuti peraturan. Jika dilarang beranak pinak dan tinggal di kios, mereka rela menuruti kebijakan tersebut. Sampai hari ini setelah lebih dari sepuluh tahun, peraturan tersebut tetap ditegakkan. Dan, Anda boleh tanyakan kepada semua PKL yang berjualan di sana. Apakah kegiatan mereka di luar berjualan? Mereka bisa menggunakan waktu luang setelah berjualan di Pulosari untuk berbagai hal. Termasuk silahturahmi dan rekreasi bersama keluarga. Dan, kios mereka benar-benar terkelola tertib dan bersih. Tak ada tanda-tanda kekumuhan. Kecuali karena memang sudah berusia sepuluh tahun lebih, ada baiknya jejeran kios PKL di Pulosari tesebut dipugar. Biar tambah lebih keren dan kinclong.
Sebagai pengusaha tentu saja memiliki waktu yang lebih luwes dibanding sebagai karyawan. Maksudnya kalau karyawan datang pukul 7.30, pengusaha datang setengah jam lebih pagi. Dan, kalau karyawan pulang pukul 16.30, maka sang pengusaha keluar kantor dua jam kemudian. Terserah mau berbuat apa saja di kantor. Namanya juga pengusaha. Mau seharian marah-marah sama seluruh karyawan satu per satu, tidak apa-apa. Silakan saja. Tapi, bila keesokan hari, seluruh karyawan mengundurkan diri, jangan dihalangi. Siapkan saja pesangon mereka. Anda sebagai pengusaha tentu mampu mengerjakan semua sendirian -tanpa bantuan karyawan yang Anda gaji tiap bulannya.
Memberi pekerjaan kepada banyak orang, itulah watak mulia pengusaha. Tentu saja pengusaha tersebut baru menjadi mulia tatkala benar-benar setelah memberikan pekerjaan -dan sebelum keringat para karyawan luntur- pengusaha mulia tersebut sudah siapkan hak para karyawan. Sebaliknya sangat tidak mulia bagi pengusaha yang suka memainkan hak para karyawan -apa pun alasannya. Hak karyawan selalu disunat demi mendapatkan keuntungan luar biasa. Atau, dengan sengaja memberikan pekerjaan tanpa imbalan memadai. Nah, pengusaha semacam ini tentu sangat tidak mulia. Dan, boleh jadi, patut dibina -lengkapnya dibinasakan.
Nah, disiplin diri dalam mengelola waktu dalam bekerja ( dan berbisnis), silahturahmi dan kegiatan rekreatif, tentu saja menjadi tantangan tiap orang. Waktu 24 jam sehari tentu saja tidak semua dijatahkan bagi kepentingan bekerja semata (apalagi jika Anda masih kuliah atau sedang mencari pasangan). Kalau semua waktu yang ada cuma untuk kerja, kerja, kerja dan kerja. Tentu akan merepotkan banyak orang. Menghidupkan selalu cinta kepada pasangan diperlukan. Baik yang sudah maupun belum berkeluarga. Katanya, cinta itu tak dapat hidup dari waktu yang tersisa.
Apa pun alasan Anda untuk tak menyediakan waktu: quality of time atau apa, kek. Itu tak lebih cuma cara untuk membohongi diri sendiri. Itu sekadar alasan guna menutupi jika Anda memang tak punya waktu untuk pasangan ataupun buah hati Anda. Kalau cinta? Ya, bilang saja masih punya. Perkara cinta Anda sudah Anda bagi-bagikan kepada banyak orang di luar rumah, siapa yang tahu? Susah amat, sih. Perkara buah hati cuma dapat ketemu sejam sehari itu pun cuma seminggu sekali -sementara untuk yang di luar rumah selalu tersedia waktu- soal lain.
Biar pun anak-anak lebih banyak dibesarkan di tangan pembantu, urusan lain lagi. Pokoknya quality of time. Tahu-tahu anak-anak terlibat narkoba, ya, namanya juga quality of time. Apa-apa kasih yang berkualitas aja. Termasuk narkoba. Sebab anak-anak selalu mencoba mencari perhatian dan kasih sayang orangtua. Tanpa tahu cara mereka keliru. Namanya juga anak-anak. Anda mau anak-anak Anda seperti itu. Kasih saja quality of drugs.
Bisnis di internet
Sejak awal 90-an, revolusi yang terjadi akibat penggunaan internet oleh dunia bisnis, kian merangsek dan nyata. Meski pada awalnya, pada 1990an, tak banyak perusahaan di Indonesia yang langsung beradaptasi dengan internet -karena jaringan telekomunikasi yang payah sampai sekarang. Ingat berapa lama pengguna internet berakses Telkom Speedy tak bisa menghubungi pemberi kerja di luar negeri? Meski kini memasuki milenium baru, tetap saja akses internet di Indonesia masih payah.
Namun, tanpa perduli layanan penyedia akses internet yang tidak juga mendapatkan kemudahan dari Pengelola Negara, sebagian besar pengusaha dan perusahaan telah menyadari arti penting internet bagi kelangsungan bisnis mereka. Hal ini pun merembes ke para pengusaha kecil dan menengah di Indonesia. Apabila tahun 2008 ini diprediksi ada 30 juta pengguna internet di Indonesia dan 1% di antaranya menggunakan internet sebagai wahana dalam berbisnis, tentu dapat dibayangkan besaran pelaku bisnis yang berasal dari Indonesia. Ada 300 ribu. Sebuah angka yang menggiurkan. Dan, Anda tentu termasuk salah seorang di antaranya. Itu kalau 1% saja. Bagaimana jika ternyata angka tersebut lebih besar dari itu?
Jika di awal tadi ada cerita PKL yang diminta agar tidak menjadikan kios tempat berjualan sekaligus sebagai tempat tinggal dan beranak pinak. keberadaan internet justru menjadi antitesis dari anggapan sebaiknya tempat tinggal dan berbisnis terpisah agar sang pebisnis dapat mendisiplinkan waktu yang tersedia 24 jam sehari tersebut ke dalam berbagai kegiatan. Tak hanya bekerja atau bisnis melulu. Tapi, perlu pula waktu untuk berhubungan sosial, silahturahmi dengan keluarga, serta aktivitas sosial dan rekreatif lainnya. Membaca blog juga termasuk kegiatan rekreatif lho.
Nah, kehadiran internet ini justru menjungkirbalikkan fenomena sosial: Bekerja itu di kantor. Kini, di jaman internet (bukan indomi telor kornet) bekerja bisa dari rumah -atau dari mana saja dan kapan saja sepanjang terkoneksi dengan internet. Tanpa ada batasan waktu dan geografis. Maka menjamurlah bisnis yang dapat dikelola dari rumah yang menggunakan fasilitas online.
Hampir semua pekerjaan dan bisnis dapat dilakukan dari rumah. Dan, di rumah dalam arti kata sesungguhnya. Lewat berbagai situs online, Anda dapat menjual ataupun membeli hampir apa pun yang Anda mau beli atau jual. Termasuk jika Anda berniat menjual diri Anda sendiri. Cuma saja kalau yang terakhir itu yang akan Anda lakukan, sebaiknya dipikir lagi.
Tanya dulu sebelumnya apa masih ada yang tertarik dengan kemolekan atau kekekaran tubuh Anda. Soalnya, bukan apa-apa. Jangan-jangan nanti banyak orang yang membaca penawaran Anda itu ternyata semua mantan Anda. Nah, mereka itu sudah mantan dan tahu banget luar dalam diri Anda. Pastilah mereka enggan dan bilang kepada koleganya. Setidaknya mereka akan malu punya mantan yang menjual diri di internet. Jadi, sekali lagi, Anda pikir-pikir dululah, kalau mau membuat malu banyak orang meskipun sudah mantan. Punya malu untuk melakukan hal itu jauh lebih mulia. Apa Anda sudah tidak punya kemaluan sama sekali? Memangnya Anda buang ke mana?
Tidak berarti pula berbisnis di internet itu sekadar membeli sebuah e-Book (yang berisikan panduan agar orang lain berbuat serupa dengan Anda) kemudian Anda sontak kaya raya. Sebab, kata jaringan penjual e-Book tersebut, uang mengalir dengan sendirinya ke rekening Anda. Waspadalah terhadap penawaran bisnis cara itu. Anda pelajari dengan teliti. Jangan pula terlitas di benak Anda, "Ah, cuma uang segitu aja, kok." Kehilangan uang segitu tak ada artinya jaman sekarang. Coba kalikan uang itu dengan lima atau enam angka di belakang 10. Atau, setidaknya Anda baca dulu blog Enda Nasution, Amalia E. Maulana, dan Avian Dewanto.
Internet marketing business bukan itu. Meskipun para penipu itu menggunakan internet sebagai sarana penyebaran hal yang merugikan banyak orang -karena itu disebut penipuan. Tentu saja yang mereka lakukan sungguh berbeda dengan Anda yang memiliki bisnis yang halal. Artinya jika suatu saat pembeli bertandang ke tempat usaha Anda, memang usaha Anda benar-benar nyata. Bukan tipu-tipu. Kalau Anda memasarkan baju dan asesoris memang Anda berjualan barang dagangan tersebut.
Demikian pula, jika pelanggan Anda hendak melihat tempat kerja Anda, memang benar-benar ada dan nyata. Anda dan saya menggunakan internet hanya sebatas perluasan pasar. Dari tadinya pemasaran cuma sebatas teman, tetangga kiri-kanan rumah dan kelompok arisan maupun satu wilayah, kita gunakan internet untuk menjangkau calon pembeli yang lebih luas. Kalau bukan karena niat itu, buat apa saya dan Anda capek-capek di depan komputer. Lebih baik keliling kompleks perumahan, barang dagangan sudah laku terjual. Capek deh.
Tentu saja, manfaat keberadaan internet ini -terutama untuk kepentingan ekonomi dan bisnis- dapat beragam bagi setiap perorangan maupun kelompok perorangan. Di Bengalor, India, kaum perempuan baik ibu rumah tangga maupun gadis (dan jangan lupa janda juga tentunya) mendapatkan pekerjaan alih daya (outsourcing) sebagai petugas call centre. Mereka tidak lantas beralih profesi sebagai call girl atau call woman.
Kaum perempuan di Bengalor tersebut bekerja untuk suatu perusahaan internasional sebagai petugas yang menyampaikan pesan penawaran barang dagangan yang dijual perusahaan tersebut. Mereka ada yang dibayar berdasarkan basis jam kerja. Ada pula yang dibayar berdasarkan panggilan yang sukses (succeed call). Tapi, sekali lagi mereka bukan wanita panggilan lho.
Tentu saja, India bukan Indonesia. Dan, penduduk India punya banyak keberuntungan dibanding penduduk Indonesia. Jika di Indonesia jarang bertemu orang yang fasih berbahasa Belanda lantaran politik diskrimininasi ketat yang diterapkan Belanda selama 350 tahun lebih menjajah Indonesia. Di India banyak sekali penduduk yang paham berbahasa Inggris (India adalah salah satu anggota Negara Persemakmuran -bekas jajahan Inggris).
Jika Inggris memberikan garansi setelah kemerdekaan India tetap mendapatkan bantuan -terutama dalam bidang pendidikan. Belanda malah membawa semua bahan pendidikan terpenting yang menjadi hak bangsa Indonesia ke museum mereka. Sehingga sampai sekarang kalau mau belajar sejarah Indonesia, Anda sebaiknya minta visa dulu ke Kerajaan Belanda. Sebab, hampir semua naskah penting dan peninggalan milik bangsa Indonesia ada di sana. Makanya, pejuang HAM Munir berniat pergi ke Belanda pun untuk mengambil doktor. Meskipun niatan itu malah menjadikan Beliau pulang tinggal nama. Sementara orang yang menggagas pembunuhan Munir pun sampai kini pun masih berkeliaran dengan jumawa.
Lantas bagaimanakah sebaiknya membagi waktu berbisnis di internet? Ya, sama saja sebagaimana ketika Anda mendisiplinkan diri dalam berbisnis sebelumnya di dunia nyata. Kecuali Anda belum pernah berbisnis sebelumnya dan langsung membuka bisnis online. Ini bisa repot banget. Tanpa pengetahuan dalam mendisiplinkan diri bekerja dan berbisnis di dunia nyata, tiba-tiba harus berdisiplin diri dan waktu mengarungi dunia maya. Ya, kalau maia mau saja diarungi Anda, bereslah perkara. Kalau maia ogah, bagaimana? Maya siapa sih?
Yang terpenting lagi di sini, kemauan keras -istilah asingnya persistence dan determination. Kalau Anda sudah memutuskan dan meneguhkan hati mengarungi bisnis di internet, sebaiknya buat jadual ketat yang harus Anda patuhi. Dan, ingat, jangan sesekali Anda langgar atau kompromikan. Atau, Anda membuat waktu menjadi fleksibel. Jika itu yang terjadi, maka tiap detik di setiap hari yang Anda miliki akan termakan di depan komputer menjelajahi internet. Dan, Anda jelas lupa akan segalanya -termasuk waktu. Apalagi Maia.
Saya pernah mengalami hal itu. Maksudnya bukan melupakan dunia maya -apalagi melupakan Irene Maya Aurida. Tapi, saya justru pernah sulit melepaskan diri dari ajakan untuk terus-menerus menjelajahi Maya, eh, dunia maya internet. Hal ini lantaran salah seorang teman saya, Reaz Hoque, seorang Disc Jockey dan Party Organizer yang bermukim di Boston, Mass, USA, memberi saya pekerjaan. Yakni, memberitahukan sekaligus mengundang sebanyak mungkin orang untuk bergabung dengan pesta yang dia selenggarakan. Istilah asingnya, saya menjadi poster. Bukan lembaran yang suka ditempel di dinding. Tapi, istilah ini menunjukkan pekerjaan di internet sebagai penyampai pesan -umumnya dalam kampanye email ataupun meletakkan pesan iklan di beberapa situs sosial dan komersial.
Teman saya Reaz -kami berkenalan melalui situs sosial di internet- itu memang kreatif. Sejak menjadi mahasiswa undergraduate (sekarang sedang ambil graduate and post graduate degree), dia sudah rencanakan untuk menjual keterampilan serta koleksi piringan cd yang dimiliki sebagai disc jockey dan party organizer. Jadi, kalau Anda kebetulan mampir ke Boston boleh jadi Anda bisa bertemu Reaz. Setidaknya Anda dapat membaca potongan selebaran yang dia tempel di papan pengumuman di beberapa kampus di seputar Boston.
Atau, paling tidak tanya saya dulu sebelum bertemu untuk ikut pesta yang dia selenggarakan. Soalnya tiap kali merencanakan sebuah pesta, sayalah yang bertugas untuk dia. Saya mengirim email untuk mengundang sebanyak mungkin orang datang ke pestanya. Tentu saja, saya mendapatkan imbalan dari dia atas usaha saya ini. Besarnya? Rahasia dong. Tapi, lumayanlah.
Hanya saja ketika pertama kali, kami bekerja sama, dan saya sudah melakukan tugas, Reaz kesulitan mengirim imbalan kepada saya. Sebab, besar imbalan buat saya tak sebanding dengan biaya kirim lewat transfer bank ataupun Western Union. Dan, dia agak malas antri di bank untuk transfer uang. Maunya semua pekerjaan bisa dilakukan lewat laptop tanpa keluar kondominium tempat tinggalnya.
Lagi pula, masak untuk honor sebesar US$ 150, saya harus rela dipotong US$ 40 sebagai biaya kirim ke Indonesia. Akhirnya, kami berdua sepakat. Uang imbalan saya digunakan untuk keperluan lain saja (antara lain, untuk membayar tagihan saya di e-bay). Sampai dengan kira-kira Februari tahun ini, setelah paypal resmi bisa menerima pembayaran internet di perbankan Indonesia, Reaz masih mengurusi pembayaran saya ke e-bay (untuk setiap transaksi yang saya lakukan). Saya beruntung punya teman sebaik Reaz.
Nah, apakah saya juga beruntung punya saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air? Maksudnya, apakah kita sebagai sebuah bangsa yang bernama Indonesia punya kesadaran bersama untuk menjaga kepercayaan yang diperoleh dari keberadaan paypal di Indonesia. Benar paypal bukan satu-satunya alat pembayaran di internet. Paypal setidaknya yang masih aman dan sah di internet.
Tapi, semakin meluasnya pengguna paypal di internet, membuka kesempatan bagi mereka yang berniat buruk. Meski belum tentu hanya orang Indonesia saja yang melakukan kecurangan (fraud) di internet. Tentu saja secara bersama-sama kita perlu menjaga kepercayaan tersebut. Ingat, sampai sekarang Indonesia termasuk negara yang dicurigai banyak melakukan kecurangan dalam penggunaan kartu kredit. Apakah kita -sebagai internet marketer- akan melepaskan kepercayaan yang telah dibuka paypal kepada Indonesia? Lain lubuk lain ikannya. Benar itu. Kita memang unik sebagai perorangan. Tapi, dalam hal hukum, kita punya kedudukan sama. Apalagi di dunia internet. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup sesal kemudian.
Dalam menjaga kepercayaan yang diberikan Reaz tersebut, saya hampir benar-benar lupa waktu. Selain harus belajar secara cepat cara pengiriman kampanye email ke banyak alamat, saya pun harus belajar menghindari peringatan (flag) dari situs yang saya kirimi pesan (iklan teselubung). Lupa waktu di muka komputer yang terkoneksi dengan internet, sungguh-sungguh godaan berat bagi setiap pebisnis di internet -bak yang bergiat sebagai netpreuner maupun internet marketer.
Meski secara resmi saya berbisnis di internet sejak 2007 lalu, namun setahun sebelumnya, saya sudah melakukan memelajari kemungkinan berbisnis di internet. Bahkan pada 1996, ketika pindah rumah ke Malang, saya sempat mendirikan usaha kecil-kecilan sebagai software house. Hanya saja lantaran ketiadaan waktu mengelola secara penuh -dan sepenuhnya bisnis diserahkan ke pekerja yang masih anyar- cikal bakal berbisnis di internet pun kandas. Apalagi setelah bisnis properti hancur lebur. Seluruh modal pun habis tersita. Untung saja tak sampai jual celana dalam akibat krismon.
Meski pada 2006, saya masih melaju Malang-Jakarta-Malang, sepenuhnya apabila berada di Malang, saya berselancar di internet. Sungguh lupa waktu dan lupa akan teman. Jaringan saya yang semula di dunia nyata benar-benar berubah menjadi maya. Meski memang saya menjadi lebih dekat dengan Maya -Irene Maya Aurida- maksudnya, tapi terus terang ada semacam kerinduan bertatap muka dalam berbicara. YM memang menghadirkan fasilitas itu. Tapi bagaimana pun aroma berbicara tatap muka, buat saya, lebih merindukan. Masak terasa sih kalau beradu mulut dengan Maya di dunia maya? Gak kan?
Cuma satu hal yang dapat mengeluarkan diri saya dari keinginan berada terus di muka komputer: Saya masih punya kewajiban kepada Allah. Sebab, kepada-Nya kelak saya berpulang. Dan, semasih di dunia ini saya mendapatkan oksigen cuma-cuma, perlulah saya berterima kasih kepada-Nya -dengan melakukan amar mahruf nahi munkar. Saya melakukan dengan kesadaran penuh. Sebab saya tak mengehendaki jika suatu saat saya harus membeli oksigen dan baru tersadar: ternyata Allah benar-benar ada. Dan, baru tersadar harus berterima kasih. Gak deh!
Sungguh, secara pribadi, internet telah mengubah pola hidup dan pertemanan saya. Namun, barangkali itulah pengorbanan yang perlu saya tempuh. Termasuk hanya menunggu kabar tentang kawan lama. Saya sungguh yakin internet dapat menjadi wahana bagi orang Indonesia kebanyakan untuk mengubah peruntungan.
Hanya bangsa yang memiliki kecerdasan, pengetahuan, dan keterampilan yang bakal keluar sebagai pemenang dalam era globalisasi. Dan, dalam dunia maya, globalisasi sungguh telah terjadi. Kreativitas menjadi kata kunci bagi siapa pun untuk meraih piala kemenangan dalam globalisasi. Makanya, ketika Marie Pangestu -sebagai Menteri Perdagangan RI- mengatakan Pemerintah akan menyusun kebijakan bagi pengembangan industri kreatif, sungguh hati ini membuncah. Tapi, itu tak lama saja. Sebab, setelah mengetahui makna lebih dalam kalimat seorang politisi yang mengatakan "baru akan menyusun kebijakan" tentu saja Pemerintah akan butuh sekian generasi untuk menyelsaikan susunan kebijakan tersebut. Belum pula pelaksanaannya. Jangan berharaplah ada para politisi kalau mau memajukan industri kreatif di Indonesia.
Memajukan industri kreatif di Indonesia bukan perkara mudah. Perlu dukungan memadai pendidikan dasar sampai universitas guna menumbuhkan elan kreativisme. Benar di antara bangsa di Asia Tenggara, bangsa Indonesia memiliki keragaman budaya yang kaya. Tapi, itu bukan jaminan tetap begitu adanya tanpa adanya upaya nyata memertahankan keragaman budaya. Apalagi jelas industri kreatif secara langsung akan membebaskan rakyat dari tekanan politik mana pun. Rakyat akan merdeka dengan kreativisme mereka. Apa sudah sudi para politikus kehilangan pamor? Lantas, apa keuntungan bagi kepentingan pribadi para politikus itu sendiri?
Jangan harap kebijakan memajukan industri kreatif di Indonesia akan segera dapat terwujud. Bu Marie, Anda benar-benar seorang pemimpi yang tengah bergumam. Kalau Malaysia dengan sengaja dan terarah memajukan industri kreatif mereka, itu sudah menjadi keputusan politik Negara dan Rakyat. Anda memang kerap bertandang ke Malaysia bersama suami. Tapi, itu tak berarti apa yang terjadi di sana, dapat secara langsung dicangkokkan di Indonesia. Memberi perlindungan kepada para pahlawan penyumbang devisa saja tidak becus, mau bicara soal industri kreatif pula. Ampun deh.
Karena itu, apabila Anda sebagai pengusaha -yang harus taat membayar pajak sementara tak tahu menahu ke mana uang pajak itu terpakai oleh para politisi dan birokrat- bertemu salah seorang Pembesar Negeri ini -baik di tingkat paling bawah atau atas sekalipun, tentu setuju dengan saya, yang akan menyatakan dengan tegas: "Celana dalam dan kaus kutang yang kau pakai. Celana dalam dan kutang istri kau saja masih dibeli pakai uang rakyat. Apa kerja kalian? Sombong sana, sombong sini. Urus kepentingan rakyat pun tak becus. Apa kalian pikir kerja kalian sudah selesai begitu mengucapkan hal itu?" Cuih!
Avian Dewanto
Penulis pernah menjadi reporter dan redaktur di Majalah Ekbis "Dagang dan Industri" Kadin Indonesia (Jakarta), Majalah Ekbis "Prospek" (Jakarta), dan Harian "Media Indonesia" (Jakarta). Punya pengalaman membangun beberapa perusahaan -termasuk perusahaan event organizer di Jakarta.
Saat ini, selain masih bergiat sebagai penulis, sedang mengembangkan diri sebagai pebisnis internet (netpreuner) dan pemasar internet (internet marketer). Sejak 1996 penulis pindah rumah dari kota kelahiran dan dibesarkan, DKI Jakarta, ke Malang, Jawa Timur.
Meski baru tahun 2007 lalu bergiat di internet marketing business. After all, "I believe internet could give everyone a chance to grab a better life. That benefit of the internet is not for peoples in big city only, I believe too."
Pernahkan Anda ke berbagai tempat wisata di berbagai belahan dunia? Ada suatu ciri yang menjadi penanda lokasi wisata. Yakni keberadaan para pedagang cenderamata. Pedagang cenderamata ini ada yang tertata dengan baik dan apik. Sehingga mereka tak menggaggu keamanan dan kenyamanan pengunjung daerah tujuan wisata yang berdatangan. Ada pula yang tak tertata sehingga semrawut.
Di sejumlah lokasi wisata bahkan para pedagang ini menyerbu para wisatawan yang baru saja mendaratkan kakinya. Tanpa keperdulian menjaga hak orang lain yang hendak menikmati daerah tujuan wisata, para pedagang ini segera merangsek dan menyodokkan barang dagangan tepat ke hidung para pengunjung.
Tentu saja lain lubuk lain ikannya. Kalau di lubuk lain bisa ditata sehingga tertib, kenapa pula kita harus berbeda? Karena kita orang Indonesia? Tentu tak semua orang Indonesia setuju dengan perilaku para pedagang cenderamata tersebut -yang kerap disebut pedagang acung. Kenyamanan dan keamanan bisa jadi faktor utama alasan wisatawan -baik wisnu (wisatawan nusantara) maupun wisman (wisatawan mancanegara)- mengunjungi sebuah lokasi wisata. Selain tentunya atraksi wisata yang ada di sana. Lama seorang wisatawan berada di suatu lokasi wisata juga ditentukan dengan hal tersebut.
Lalu apakah hubungan cerita ini dengan kegiatan internet marketing yang sedang kita lakukan ini? Tentu saja hubungan mereka baik-baik saja. Maksudnya, wisatawan terus mengalir ke Indonesia tanpa perduli mau ada bom atau tidak. Kalau teroris mau melepas bom, di mana pun juga bisa. Tak harus di Indonesia. Mau, kek, Singapura melepaskan Kastari dari penjara super ketat mereka, tetap saja perjanjian ekstradisi bagi para koruptor asal Indonesia perlu segera direalisasi. Apa Singapura pikir kalau Kastari dilepaskan -guna memberi kesibukan kepada aparat keamanan Indonesia- kita jadi lupa soal koruptor asal Indonesia yang menikmati perlindungan di Singapura. Tentu saja tidak.
Begitu pula banyak cara dapat dilakukan agar sukses dalam berbisnis di internet -baik sebagai netpreuner maupun internet marketer. Tapi pemasaran -baik dilakukan secara online maupun offline- punya satu tujuan: Memberikan kepuasan. Dalam istilah asing -biar keren geto loh- costumer satisfaction.
Apakah kepuasan itu? Nah, ini dia. Tiap orang beda-beda soal batas kepuasan. Ada yang diberi permen sudah puas. Ada yang baru puas setelah dibelikan Ferrari. Ada pula yang puas semalam seronde. Ada yang belum puas kalau belum tiga ronde atau lima ronde semalam. Jadi kepuasan memang relatif.
Itulah sebabnya memberikan kepuasan perlu mengukur kemampuan. Kalau Anda cuma bisa membelikan bakso dua mangkok tiap kali apel, ya, memang segitu kemampuan Anda. Jangan pula Anda rampok orang lain cuma gara-gara mau apel. Banyak lho yang puas cukup dengan gula-gula cinta. Di lain pihak, ada yang baru puas bila ada dibuatkan salon kecantikan di mal di depan bundaran HI. Namun, rata-rata orang akan merasa puas apabila beberapa hal kita melakukan hal beberapa berikut:
Memahami produk
Memahami sebenar-benarnya produk (baik barang maupun jasa) dengan sendirinya akan memberi kesan kepada setiap pengunjung situs (toko atau bisnis online), mereka berhubungan dengan ahlinya. Para pengunjung akan langsung merasa aman karena berhubungan dengan ahlinya. Perihal pemahaman produk dan jasa yang kita jual ini menjadi pintu gerbang pertama menanamkan kepercayaan kepada para pengunjung situs internet. Karena itu pula pengunjung mau berlama-lama di toko online Anda.
Bagaimanapun, para pengunjung situs online itu lebih banyak yang tak tahu tentang diri Anda. Kecuali Anda beranggapan semua pengunjung situs Anda itu pacar Anda, calon pacar Anda, maupun mantan pacar Anda, atau mereka itu suami, istri, mantan suami, mantan istri, teman, sahabat, kolega, saudara, kakek-nenek, bapak-ibu, paman-bibi, kakak-adik, ipar, mertua dan semua kenalan Anda. Itu hal lain.
Untuk itulah, membawa diri sebagai seorang guru yang dapat menjelaskan dengan baik dan benar setiap produk (barang dan jasa) akan dengan sendirinya menanamkan kepercayaan kepada setiap pengunjung toko online Anda. Kepercayaan itu modal utama dalam berbisnis. Tanpa kepercayaan, Anda tak akan mendapatkan transaksi apa pun. Jadi, sebagaimana juga jika melakukan pemasaran offline di duna nyata maksudnya, untuk menjadi pemasar yang mampu menjelaskan dengan baik dan benar produk yang ditawarkan, memahami produk menjadi prasyarat mutlak.
Ketika berhasil memberikan pemahaman tentang produk kepada pengunjung situs kita, tentu pulalah kepuasan telah mereka dapatkan. Sebaliknya, kita pun telah mendapatkan kepercayaan para calon pembeli dengan kemampuan memahami produk yang kita pasarkan. Jadi kepercayaan dapat kita tunaikan melalui pemahaman terhadap produk yang kita pasarkan. Anda boleh jadi mampu memberikan sebuah Ferrari buat calon Anda. Tapi, tentu perlu waspada, apakah seharga itulah kepercayaan calon Anda terhadap Anda. Bagaimana kalau di kemudian hari, Ferrari itu terpaksa digadaikan, apakah kepercayaan terhadap Anda pun tergadai?
Nah, kalau Anda sudah bertekad bulat berbisnis di internet, sebelum membuat sebuah situs, tanyakan kembali apakah Anda sudah memahami produk yang akan ditawarkan lewat internet? Sekali lagi, tanpa pemahaman yang baik dan benat, apa pun upaya yang akan dilakukan akan menjadi muspro, sia-sia. Sebab, tak seorang pun mau bertransaksi dengan seseorang yang tak paham dan karenanya tak layak dipercaya. Kata kuncinya: pehamaman terhadap produk itu upaya awal menanamkan kepercayaan pengunjung situs.
Jujurlah tentang produk
Boleh jadi, seperti saya ini yang kerap berlaku tak jujur, ketika ditanya istri kenapa pulang terlambat? Saya kerap mengemukakan berbagai alasan yang kadang tak masuk akal. Tapi, itu saya sadari setelahnya. Sewaktu menyampaikan pertama kali, sih, rasa-rasanya semua masuk akal saja. Kejujuran -atau lebih tepat keterbukaaan atau dalam bahasa asing full disclosure- tentang produk yang ditawarkan menjadi syarat pula dalam menanamkan kepercayaan kepada pengunjung toko online. (Ingat! Semua pengunjung situs online kita itu calon pembeli.)
Kejujuran tentulah bukan dengan memberitahukan jumlah keuntungan yang bakal diperoleh apabila pengunjung membeli produk kita. Atau, besar simpanan Anda di bank. Bukan pula berapa banyak "simpanan" dan di mana saja mereka beralamat. Bukan hal seperti itu yang dimaksud kejujuran dalam berbisnis. Tapi, kejujuran inilah yang nantinya menjadikan toko online Anda menjadi kesukaan banyak pelanggan.
Tentulah yang namanya masih buatan manusia (human made) memiliki kekurangan. There are still human error in every human made. Produk buatan manusia masih mengandung kekurangsempurnaan. Apa pun produk itu. Jadi janganlah Anda berupaya menutupi kekurangsempurnaan dalam produk yang ditawarkan. Sebab, pembeli yang waras sudah paham soal kekurangsempurnaan sebuah produk buatan manusia. Lain halnya kalau yang Anda pasarkan di internet bukan buatan manusia. Misalkan Anda menawarkan diri Anda sendiri untuk dijual. Memang ada yang mau?
Mereka -para pembeli yang waras itu- akan menghargai kejujuran Anda apabila Anda tidak berupaya menutup-nutupi kekurangsempurnaan produk yang ditawarkan. Bagamana pun meraih kepercayaan pembeli jauh lebih menguntungkan untuk bisnis Anda ketimbang mengejar target penjualan namun melupakan kejujuran. Sebab, keterbukaan -baik hal positif maupun negatif- terhadap suatu produk yang ditawarkan itu menunjukkan niat baik Anda untuk menghindarkan pembeli celaka setelah membeli produk Anda -apa pun produk yang ditawarkan.
Kejujuran pada akhirnya membukakan mata hati setiap pembeli menjadi pelanggan. Sebab mereka akan datang kembali kepada Anda setelah yakin berbisnis dengan Anda lebih aman dan terpercaya ketimbang dengan pesaing Anda. Di internet banyak orang jauh lebih pandai dan mampu membedakan mana pemasar jujur dan mana pemasar penipu. Janganlah Anda sesekali disebut sebagai yang terakhir. Sebab, sekali seorang Anda tipu, jutaan lainnya akan segera tahu: Anda itu penipu bukan pemasar internet. Maka ketika itu terjadi tamatlah bisnis yang Anda bangun itu.
Mengenal pesaing
Selain kejujuran tentang produk, anda perlu kejujuran bahwa produk Anda bukanlah satu-satunya yang dipasarkan di internet ini. Kecuali Anda dapat membuktikan sebaliknya. Jadi, jangan sembunyikan bahwa ada banyak pesaing yang menawarkan produk seperti yang Anda tawarkan. Mengenal pesaing bisnis Anda, mengetahui kelebihan dan kekurangan produk pesaing, mengetahui teknik dan strategi pemasaran pesaing, dan segala hal ihwal dan seluk beluk pesaing perlu dilakukan.
Ketika Michael Corleone menyerahkan tampuk pimpinan mafia Italia kepada keponakannya, dalam film Godfather III gubahan Mario Puzo, ia berkata, "Selalu berdekatan dengan lawanmu. Sebab, teman-teman dekatmu sudah berada di sisimu." Dengan pemikiran ala Michael Corleone sesungguhnya menjadikan semua lawan dan pesaing bisnis selalu berada dalam jarak pandang kita, akan sangat menguntungkan. Sehingga setiap ancaman lawan atau pesaing bisnis segera dapat diketahui sebelumnya. Kalau kita tak pernah berdekatan dengan lawan atau pesaing bisnis, tentulah dengan mudah para lawan atau pesaing bisnis kita melaklukan perubahan dan inovasi bisnis yang dapat mengancam kelanjutan bisnis kita.
Maka menempatkan lawan atau pesaing bisnis sebagai lebih berdekatan ketimbang "teman bisnis" akan sangat bermanfaat. Kreativitas dalam komunikasi guna menjaga hubungan dengan lawan dan pesaing bisnis memudahkan menjaga jarak. Siapa tahu suatu saat kelak dari komunikasi dengan "pesaing bisnis" kita itu justru mendatangkan bisnis lainnya. Paling tidak dapat bertukar informasi.
Semangat membara
Meki di internet antara pemasar dan pembeli tak saling tatap muka, namun semangat yang berkobar dalam berbisnis di internet akan tampak. Aura semangat pemasar akan tampil di setiap layar komputer melewati jaringan kabel yang terhubung antarkomputer. Tak perlu Anda ragukan hal itu. Karena itu, semangat dalam berbisnis di internet sama saja dengan bisnis tradisional yang tak menggunakan internet. Pendek kata, semangat itu diperlukan dalam berbisnis.
Jika Anda sebagai pebisnis internet -kerap disebut sebagai Netpreuner- atau pemasar internet -kerap disebut sebagai internet marketer- semangat yang mengelora akan berpengaruh positif pada hari-hari Anda. Bayangkan -silakan bayangkan dulu barang dua atau tiga menit- apa jadinya bisnis Anda apabila seharian Anda menghadapi layar komputer sendirian tanpa semangat menggelora di dada? Anda akan segera bosan dan patah hati. Sementara itu tak seorang pengunjung pun mau menghampiri situs Anda.
Jika semangat menggelora dalam dada Anda itu padam, segera Anda cari karir atau pekerjaan lain. Lupakan segera keinginan menjadi pebisnis internet (netpreuner) atau pemasar internet (internet marketer). berbisnis di dunia maya internet itu penuh hari-hari membosankan. Meski tampak di layar komputer hiruk-pikuk, blink-blink jutaan situs.
Kelanjutan setelah penjualan
Pernahkah Anda melakukan diskriminasi dalam membeli sesuatu? Maksudnya apa alasan Anda membeli sesuatu di "A" bukan di "B" atau "C"? Padahal baik harga maupun kualitas produk sama. "A" = "B"= "C". Sebagaimana pula di dunia nyata, pada akhirnya bisnis internet ataupun pemasaran internet menjadi sesuatu yang bersifat personal. Sesuatu yang bersifat pribadi.
Seorang pebisnis ataupun pemasar yang cerdik tahu persis tentang hal ini. Seseorang berbisnis sesuatu dengan "A" bukan semata-mata lantaran harga produk "A" lebih murah atau lebih mahal. Bukan pula lantaran kualitas produk "A" lebih baik atau lebh buruk. Tapi, banyak orang mau berbisnis dengan "A" karena percaya dan nyaman berbisnis dengan "A" ketimbang "B" atau "C.
Rata-rata pembeli malas bertukar tempat membeli. Sekali pembeli mendapatkan pelayanan dan menaruh kepercayaan kepada pemasar, mereka akan kembali kepada pemasar tersebut. Karena itu, segala upaya untuk membangun kelanjutan penjualan setelah pembelian sangat diperlukan. Beberapa hal dapat dilakukan pebisnis internet ataupun pemasar internet. Misalkan, mengirim e-mail.
Jika Anda punya produk anyar, kirimlah email kepada setiap pembeli Anda. Atau, kalau Anda punya informasi hari lahir pembeli, kirimkan kartu pos pada hari ulangtahunnya. Kalau perlu, telponlah mereka untukmenjelaskan produk anyar Anda ataupun untuk mengucapkan hari jadi mereka. Tujuan dari upaya ini jelas: Mengingatkan kepada setiap pembeli, Anda masih eksis. Dan, sungguh menyenangkan buat Anda berbisnis dengan mereka.
***
Apakah Anda telah menengok kembali penampakan bisnis dan toko online Anda? Coba periksa deh. Jangan-jangan perilaku Anda mirip dengan pedagang acung di awal tulisan ini. Kerjanya menohokkan semua barang yang mau dijual tepat ke hidung calon pembeli. Pemasaran internet memerlukan kiat jitu agar sukses. Anda itu seorang pemasar (marketer) bukan pedagang acung. Pemasaran tentu membutuhkan kemampuan komunikasi kepada seluruh calon pembeli. Tak hanya mengacungkan-acungkan barang dagangan yang hendak dijual.
Avian Dewanto
Penulis pernah menjadi reporter dan redaktur di Majalah Ekbis "Dagang dan Industri" Kadin Indonesia (Jakarta), Majalah Ekbis "Prospek" (Jakarta), dan Harian "Media Indonesia" (Jakarta). Punya pengalaman membangun beberapa perusahaan -termasuk perusahaan event organizer di Jakarta.
Saat ini, selain masih bergiat sebagai penulis, sedang mengembangkan diri sebagai pebisnis internet (netpreuner) dan pemasar internet (internet marketer). Sejak 1996 penulis pindah rumah dari kota kelahiran dan dibesarkan, DKI Jakarta, ke Malang, Jawa Timur.
Meski baru tahun 2007 lalu bergiat di internet marketing business. After all, "I believe internet could give everyone a chance to grab a better life. That benefit of the internet is not for peoples in big city only, I believe too."
Kerja di JakartaSeorang penjahit baju di Haur Geulis, Indramayu, Jawa Barat punya istri nan cantik. Setelah beberapa bulan menikah, di suatu pagi, sang istri mengemasi semua baju dan perhiasannya. "Mau ke mana?" Tanya sang suami."Aku mau ke Jakarta ikut teman," jawab sang istri, "katanya aku bisa dapat Rp 100 ribu semalam kerja di sana.""Kerja apa Rp 100 ribu semalam?" Tanya suami penasaran."Sama seperti di rumah ini," ujar istri, "Di sini gratis. Di Jakarta, aku dibayar.""Sebentar-sebentar," kata suami sembari menggamit tangan istrinya, "berapa kau kirim aku tiap minggunya?" *****Pindah kota dan berhenti bekerja tentu bukan perkara gampang. Apalagi bisnis suami masih baru dibangun. Tambahan pula, suami bekerja di Surabaya yang berjarak 100 kilometer dari Malang. Suami pun pulang Sabtu dan Minggu. Istilah teman-teman di Bandung, "weekend husband." Itu pun tidak setiap minggu pulang ke Malang. Karena di Surabaya suami punya tempat tinggal juga yang sekaligus sebagai kantor bisnis sampingannya. Tapi, apa mau dikata? Keputusan telah diambil.Ketika anak-anak masih kecil tentu saja kegiatan utama istriku sibuk mengurusi seluruh kepentinan anak-anak. Tapi, saat ini anak sudah semakin besar dan tak mau terlalu diurusi Ibunya. Mereka sudah merasa mampu mengurusi diri masing-masing. Dan, kegiatan mereka di luar rumah pun bertambah lama dan banyak. Pada akhirnya, istriku pun merasa kesepian di rumah sendirian. Untuk mengisi kelapangan waktu itulah, istriku yang rajin mengikuti berbagai kegiatan sosial pun mulai mencoba berjualan. Barang-barang didatangkan dari Jakarta. Adikku yang perempuanlah yang dititipi untuk membelikan barang dagangan istriku. Tak jarang pula adik-adikku membelikan barang untuk dijual oleh istriku di Malang. Kegiatan istriku pun bertambah banyak. Rupanya perniagaan yang dilakukan lumayan. Maksudnya dari uang belanja yang sejuta bisa bertambah 1 bahkan 2 juta setiap bulan. Itu kalau lagi mujur. Kalau tidak, ya, namanya usaha.Sampai akhirnya, aku mendapatkan keagenan (reseller) alat latihan tulis baca buat anak-anak TK dari sebuah perusahaan di Jakarta. Itu pun terjadi berkat bantuan seorang teman. Istriku pun beralih jenis mata dagangan. Sebab, berjualan baju dan asesoris makin lama makin banyak pesaing. Pergaulan pun bertambah. Hampir seluruh pengurus TK di Malang dia kenal. Pula hampir semua peserta pameran untuk pendidikan -misalkan, toko buku, penerbit, dan alat edukasi- dia kenal. Sebab, ia rajin mengikuti berbagai pameran dan lomba yang diikuti anak-anak TK. Sampai suatu ketika pasar tak lagi dapat berkembang. Kecuali istriku mampu melakukan pemasaran ke luar Kota Malang. Tentu saja meluaskan cakupan pasar tak sederhana. Merekrut pegawai secara keuangan memberatkan. Sebab fluktuasi penjualan sangat tinggi. Hasil penjualan tak menutupi biaya operasional. Selain itu, penjualan terbanyak hanya terjadi di awal tahun pelajaran. Setelah itu, penjualan menurun drastis. Kecuali yang belum sempat punya atau sebagai pengganti yang rusak. Saat itulah, kami berdua berdiskusi untuk mengembangkan pemasaran melalui internet. Sebagai suami yang sedang mengembangkan jasa internet marketing -yang melakukan alih daya (outsourcing) beberapa jasa di internet- saya menyusun perhitungan untuk memindahkan pemasaran offline istri ini menjadi online.Dari beberapa perhitungan yang dibuat, kami berkesimpulan sebagai beikut:1. Pemasaran online seharusnya memiliki pula kaidah dasar sebagaimana pemasaran offline. Apabila pemasaran offline memerlukan toko, pemasaran online pun wajib memiliki toko. Toko di dunia nyata itu sebagaimana pemandangan sehari-hari yang kita lihat. Baik toko yang di muka rumah kita maupun di ruko juga di mal ataupun pusat pertokoan. Pemasaran internet wajib memiliki situs sebagai toko atau dalam bahasa asing disebut online store atau online shop. Jadi apabila berniat sebagai komersial, tentulah bisnis perlu dikelola secara komersial. Sekaliogus menunjukkan profesionalitas sebagai pemasar (marketer) ataupun pengusaha (netpreuner). Lagi pula, keberadaan situs milik sendiri -bukan situs sosial- dapat mengharapkan adanya pemasukan tambahan dari, misalkan, perolehan iklan. Sebagaimana juga sebuah kios di dunia nyata, ada saja yang mau beriklan di muka kios kita. Apabila kaidah dasar ini tidak diikuti, tentu profesionalitas dan komersialisasi sulit terjadi. Sehingga menggunakan situs sosial untuk berdagang secara komersial menjadi kurang tepat. Ibarat minyak dan air. Pertemanan (hubungan sosial) perlu dikelola secara pertemanan (sosial). Hubungan bisnis (komersial) juga perlu dikelola secara bisnis (komersial). Dapat dipastikan seseorang akan menemui kesulitan apabia mencampuradukkan antara pertemanan dan bisnis. Sebab, pertemanan dan bisnis layaknya air dan minya. Keduanya harus ditempatkan di wadah masing-masing. Jerigen minyak hanya untuk minyak. Sedangkan air ditaruh di tempayan. Apabila minyak dan air disatukan tentu saja ketika akan memasak, api tak menyala. Ketika akan menjerang, air bercampur minyak. Jadi janganlah mencampur aduk antara pertemanan dan bisnis. Apalagi mertua dan ipar ikut campur. Kalaupun mau cawe-cawe buatlah aturan bisnis yang tegas.2. Komoditas yang dipasarkan secara online memiliki keunikan dan harga yang sesuai dengan keunikan tersebut. Maksudnya, komoditas yang dipasarkan tak mudah didapat di tempat lain. Itu artinya Andalah pemilik komoditas tersebut. Jika fashion, Andalah desainer dan produsennya. Begitulah kira-kira gambaran besarnya.
Apabila komoditas yang dijual mudah ditemui di toko online lain, bahkan di pasar dan supermarket biasa, maka kita harus bekerja keras meyakinkan calon pembeli komoditas di internet agar percaya komoditas kita memiliki kualitas jauh di atas rata-rata. Tentu dengan harga yang masuk akal.Komoditas yang akan dipasarkan secara online oleh istriku memang memiliki keunikan tinggi. Sebab, tidak ada produsen lain. Alat edukasi tersebut dipatenkan. Sehingga tidak akan ada produsen lain yang memasarkan komoditas sejenis. Tapi, kami pun berhitung pula. selain istriku di Malang, ada sejumlah reseller lain di kota lain yang memasarkannya. Sedangkan tujuan kami membuka toko online itu untuk menjangkau pembeli yang berada jauh dari Malang. Apabila pun terjadi penjualan kepada pembeli di luar Kota Malang, tentu terbentur biaya kirim. Per satuan komoditas menjadi sangat mahal. Kecuali untuk pembelian dalam jumlah banyak. Sedangkan pemasaran dalam jumlah banyak telah dilakukan reseller lain yang berlokasi di daerah tersebut.Dari kedua pertimbangan tadi, kami berkesimpulan: (1) kami perlu mengajak reseller lain berinvestasi membuka toko online secara komersial dan tidak menggunakan situs sosial sebagai etalase. Kami pun perlu meyakinkan pemilik komoditas (produsen) menjadi pihak terbesar sebagai penyandang dana. (2) Penjualan ke daerah mana pun sepanjang ada reseller di lokasi terdekat akan dapat dilayani. Karena dapat bekerja sama dengan reseller lain. Sehingga harga pun menjadi terjangkau meski untuk pembelian satuan. ***Hari-hari ini istriku pun masih memasarkan alat baca tulis tersebut dari pintu ke pintu. Dia sungguh tak akan pernah mau mengikuti cerita istri penjahit baju dari Indramayu di awal tulisan ini. Dia pun percaya bisnis tak dapat dibangun dalam semalam. Perlu kesabaran dan keuletan dalam menjalankannya. Serta menaati kaidah bisnis dan perhitungan komersial.Sembari menunggu kabar menggembirakan, saat ini, istriku sudah punya pelanggan. Ada saja rejeki datang berupa pesanan satu atau dua buah setiap minggu. Berharap terjadi penjualan dalam jumlah besar di luar awal sekolah, tentu hanya mimpi. Maka ia pun tahu diri untuk menunggu panen berikut di awal tahun pelajaran.
Apakah komoditas yang Anda pasarkan secara online telah dikaji secara komersial dan menaati kaidah berbisnis? Tentu Anda sendirilah yang dapat menilai.Avian Dewanto Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi, pengetahuan yang didapat dari pelatihan dan kursus yang pernah diikuti penulis selama menjadi wartawan ekonomi dan bisnis, serta berbagai buku dan bahan bacaan dari berbagai sumber yang dimiliki penulis.
Penulis pernah menjadi reporter dan redaktur di Majalah Ekbis "Dagang dan Industri" Kadin Indonesia (Jakarta), Majalah Ekbis "Prospek" (Jakarta), dan Harian "Media Indonesia" (Jakarta). Punya pengalaman membangun beberapa perusahaan -termasuk perusahaan event organizer di Jakarta. Saat ini, masih bergiat sebagai penulis dan sedang mengembangkan diri sebagai pebisnis internet (netpreuner) dan pemasar internet (internet marketer).
Sejak 1996 penulis pindah rumah dari kota kelahiran dan dibesarkan, DKI Jakarta, ke Malang, Jawa Timur. Setelah 10 tahun melaju Malang-Surabaya-Jakarta, pada 2007 lalu bergiat di Malang dan membangun internet marketing business.
After all, "I believe internet could give everyone a chance to grab a better life. That benefit of the internet is not for peoples in big city only, I believe too."
Sebelum internet melanda Indonesia. penerbitan berkala kerapkali menjadi satu-satunya sumber resmi berbagai instansi pemerintah. Dan, sampai kini pun hampir tiap lembaga Pemerintah di tingkat Pusat sampai dengan Pemerintah Daerah memiliki penerbitan berkala tersebut. Penerbitan tersebut dapat dikatakan berkala karena tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak.
Sewaktu masih menjadi wartawan kira-kira lima belas tahun lalu, saya pernah diundang bagian kehumasan sebuah departemen. Isi undangan menghadiri lokakarya penerbitan majalah berkala di departemen tersebut. Semua biaya akomodasi dan transportasi bahkan diberikan honor segala untuk sebuah lokakarya yang berlangsung tiga hari, berangkat Jumat pulang Minggu. Tempatnya pun bolehlah. Di sebuah resor di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.
Beberapa teman wartawan yang kerap meliput di departemen tersebut ternyata juga ikut serta lokakarya tersebut. Kami berangkat bersama dengan kendaraan yang disewa khusus untuk kami, para wartawan. Usai shalat, Jumat kami meluncur naar boven. Sesampai di resor, tentu saja, kami tak langsung mengikuti kegiatan lokakarya. Kami beristirahat dulu.
Acara lokakarya kabarnya baru akan dibuka nanti malam setelah makan malam dan ramah tamah. Acara nanti malam hanya pembukaan semata oleh Kepala Humas yang mewakili Bapak Menteri. Katanya kegiatan lokakarya baru akan berlangsung keesokan pagi sekitar pukul 10-an, kata salah seorang staf Humas Departemen yang mengundang kami.
Singkat kata, keesokan pagi, usai makan pagi yang berlangsung sampai pukul 10 lewat kami masih disilakan berisitirahat sejenak. Dan, istirahat sejenak ini sampai dengan makan siang. Kami para wartawan bertanya-tanya kapan lokakarya dimulai. "Nanti setelah makan siang," kata salah seorang staf Humas Departemen tersebut.
Tentu saja kami bosan menunggu. Beberapa rekan berinisiatif meminjam kendaraan untuk berputar-putar di kawasan Puncak. Boleh juga gagasan ini. Maka jadilah kami menikmati pemandangan dan berbelanja ala kadarnya serta kembali sekitar waktu makan siang. Lantas kapan lokakarya dimulai? Katanya sehabis makan siang. Semua bahan lokakarya sedang digandakan. Kami diminta beristirahat lagi seusai makan siang.
Akhirnya sore pun tiba. Kami dikumpulkan di sebuah aula. Di meja tampak tumpukan kertas yang saya duga bahan lokakarya. Sembari ditawari minuman hangat dan camilan, salah seorang staf Humas Departemen tersebut membuka kegiatan lokakarya tersebut. Panjang lebar dia menggambarkan rencana penerbitan majalah berkala Departemen tersebut. Sampai akhirnya, dia memberikan kesempatan kepada kami para wartawan memberikan masukan.
Kami benar-benar tidak tahu harus memberikan komentar apa pun. Bahan yang tadi dibagikan kepada kami sudah dibaca tuntas sampai persis titik komanya. Karena kami memang tak tahu harus bicara apa pun, akhirnya tak seorang pun di antara kami berkomentar. Dan, staf Humas Departemen tersebut dengan segera mengistirahatkan acara dengan beralasan memberikan waktu kepada kami untuk berdiskusi sejenak di luar agenda lokakarya. Dia berharap setelah itu kami dapat memberikan masukan.
Sampai makan malam pun tiba, tak ada satu pun di antara kami, para wartawan, yang tahu hal yang perlu disampaikan dalam lokakarya ini. Hal itu kami sampaikan terus terang kepada staf Humas Departemen tersebut yang tadi membuka dan memimpin acara lokakarya tersebut. "Tak perlu kuatir jika tak ada satu pun masukan dari Bapak-bapak wartawan, kami kan sudah menyiapkan perencanaan penerbitan. Nanti sesampai di Jakarta kan kita bisa berdiskusi lagi," katanya dengan tenang. Jadi? "Ya, nanti setelah makan malam, acara lokakarya ini kita tutup saja."
Nah, lima belas tahun kemudian, saya membaca sebuah blog berjudul e-Government yang Abai Komunikasi Online yang ditulis oleh seorang teman baik saya, Nukman Luthfie. Begini isinya:
Ketika diundang oleh Badan Informasi dan Komunikasi (BIP) Partai Golkar untuk menjadi salah satu pembicara di seminar nasional mengenai e-Government, saya sempat ragu. Topik apa yang harus saya bawakan? Bukankah e-gov bukan hal baru? Apalagi selain saya, yang diundang sebagai pembicara adalah guru besar UGM, Gubernur serta Walikota. Namun karena panitia mengatakan bahwa mereka membutuhkan suara baru dari praktisi yang justru belum pernah bicara soal e-gov, saya akhirnya menyatakan setuju dan langsung melakukan riset kecil.
Hasil riset kecil itulah yang saya paparkan tadi pagi di kantor pusat Partai Golkar di Slipi, Jakarta.
Pertama, Indonesia secara berturut-turut masuk peringkat memalukan di kancah global. Hasil riset Universitas Waseda menunjukkan, Indonesia “dengan bangga” duduk di peringat 29 selama 2006 dan 2007, kalah dari Filipina, Brunei, bahkan Afrika Selatan!
Ada enam kriteria yang digunakan untuk pemeringkatan tersebut. Yakni Network Preparedness, Required Interface-Functioning Application, Management Optimization, Homepage /portal situation, CIO, Promotions of e-Government. Meski demikian, untuk masing-masing kategori pun Indonesia tidak masuk 10 besar.
Saya sudah banyak membaca komentar sinis bahwa e-gov itu proyek korupsi, menghabiskan miliaran rupiah tapi hasilnya hanya tampilan web yang dikerjakan asal-asalan. Maka suara itu juga yang saya sampaikan di depan kader muda Golkar. Namun karena yang mengundang adalah badan yang bertanggungjawab terhadap informasi dan komunikasi, maka saya juga menelaah e-gov dari sisi komunikasi.
Maka, hal kedua yang saya sampaikan adalah: e-gov boleh saja dibangga-banggakan oleh para gubernur atau kepala daerah, namun setelah saya riset kecil, hampir semua portal e-gov memiliki cita rasa desain yang sama! Yakni desain web generasi bahula, yang terbagi atas tiga kolom, persis desain Detikcom yang tidak berubah sejak 1998, dengan warna-warna pucat. Sangat tidak menarik untuk dipandang, apalagi dijelajahi! Maka, saya menduga (tanpa dukungan data statistik) lebih dari 70% pengunjung hengkang begitu melihat halaman pertama.
Ketiga, portal e-gov tidak mengerti bahasa komunikasi. e-Gov sesungguhnya ditujukan untuk tiga segmen yang berbeda. Yakni sesama pemerintah (G2G), penduduk (G2C) dan kalangan bisnis (G2B). Setiap segmen memiliki karakteristik masing-masing. Celakanya, e-gov Indonesia berbicara dengan bahasa yang sama kepada ketiga audience tersebut. Hal inilah yang tidak dilakukan oleh pemerintah New York maupun singapura.
Kedua pemerintahan itu tahu, bahwa masing-masing audience membutuhkan fitur dan cara komunikasi yang unik. Itu sebabnya, begitu masuk ke portal e-gov Singapura maupun New York, pengunjung disediakan menu sesuai dengan audiencenya (government, citizen & residence, business, non-residence). Begitu masuk ke masing-masing menu, Anda akan merasakan betapa banyaknya fasilitas online yang dipersembahkan untuk pengunjung. Tidak heran jika mereka berdua selalu berada di posisi satu dan dua e-gov terbaik dunia.
Maka di akhir presentasi saya berpesan kepada yang hadir di seminar itu agar mereka berperan aktif menyadarkan walikota, gubernur dan lembaga lain, jika ingin membangun e-gov yang berhasil, jangan hanya memperhatikan faktor IT, infrastruktur, tetapi juga SDM, komunikasi dan pemasaran. Singapura dan New York sudah memberikan contoh yang menawan di bidang e-gov.
Dikutip dari : Nukman Luthfie
Selesai membaca blog tersebut saya kontan teringat dengan cerita saya tentang lokakarya yang ditulis sebelumnya. Apakah yang kita harapkan sebagai hasil kerja para birokrat yang memang tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola suatu media komunikasi? Baik hal itu pembuatan situs internet yang dikenal dengan istilah mentereng e-gov saat ini maupun pelaksanaan penerbitan berkala. Semua dilakukan dalam semangat yang sama dan dalam ketidakpahaman yang sama.
Lantas kalau Pak Nukman ini muring-muring melihat penampilan situs berbagai Lembaga Pemerintahan Republik Indonesia, ya, apa mau dikata: Memang itulah kerja maksimal para Pengelola Negara yang dicapai. Tak jauh beda dengan cara mereka mengelola banjir, kebakaran hutan, berncana alam, pengangguran, kasus korupsi BLBI, dan sebagainya.
Saya cuma berangan-angan kapan lagi mendapat undangan lokakarya. Bisa saja kan kali ini diselenggarakan lokakarya bertema: Perencanaan dan Restorasi Situs e-Gov. Barangkali saja. Namanya barangkali kan tentunya masih angan-angan. Sebagaimana juga banyak pihak yang mengangankan keberadaan Situs e-Gov dapat benar-benar berfungsi sebagai saluran komunikasi para pihak (stakeholders): Masyarakat, Politisi, Birokrasi Pemerintah Daerah, dan jangan lupa, para pengusaha dan investor. Jangan sampai mereka yang berniat menanamkan modal mebuka usaha di suatu daerah malah disulitkan dengan ketiadaan informasi mutakhir yang memadai.
Nah, sekali lagi, yang bernama impian itu toh sesuatu yang tidak terlarang. Apalagi untuk sesuatu yang dapat bermanfaat bagi banyak pihak.
Pak Nukman, blog Anda telah benar-benar membawa saya ke lima belas tahun lampau. Sesuatu yang semestinya sudah saya lupakan.
Avian Dewanto
Kok setelah beberapa lama membuat situs online, tidak ada satu pun penjualan? Pertanyaan ini boleh jadi kerap terlontar. Sebab, bagaimanapun tujuan membuat sebuah situs di internet sebagai sarana berbisnis. Berbisnis cuma satu ujuan: Mendapatkan keuntungan. Jadi, bila tidak ada penjualan, bagaimana dapat keuntungan? Jadi buat apa capek-capek buat berbisnis internet. Lebih baik jualan langsung di dunia nyata. Pakai internet segala. Capek deh. Keluh kesah ini tak pelak dapat menjadikan semangat berbisnis di internet bakal meredup. Lalu, kenapa penjualan melalui online masih rendah. Tentu banyak hal yang menjadi alasan. Namun, kurang tepat apabila dikatakan pemasaran internet kurang pas untuk bisnis. Sebab, boleh jadi kekeliruan ada di situs online yang kita buat. Bukan karena internet. Banyak kok yang sudah sukses berbisnis di internet, kenapa kita tidak?
Sebagaimana juga ruang pajang di dunia nyata, di dunia maya internet ini, berlaku pula "jatuh cinta pada pandangan pertama." Sebelum melemparkan rayuan maut kepada calon Anda, terlebih dahulu Anda harus mampu menarik perhatian. Tentu yang dimaksud di sini sebanyak mungkin Anda harus membuat banyak orang berkunjung ke situs online Anda. Nah, kalau pada pandangan pertama calon (pembeli) Anda sudah tidak mau melihat situs Anda, bagaimana mungkin dia mau tahu segala sesuatu yang Anda jual.
Sekali lagi, jangan terburu-buru menyalahkan dunia maya internet. Wong Maya saja ndak salahkan sapa-sapa, kok, atas masalahnya? Lebih baik periksa dulu penampilan situs kita. Apa saja isinya? Bagaimana penampilannya? Baru dapat kita bertanya kenapa situs kita tidak banyak pengunjung? Jadi, sekali lagi, tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Apalagi dunianya Maya. Maya sapa sih?
Kembali lagi pada perilaku para pengguna internet (yang sudah disinggung pada blog sebelum ini). Sebelum memutuskan berbisnis di internet, kita perlu mengetahui terlebih dahulu perilaku kebanyakan para pengguna internet. Satu hal yang menjadi ciri utama kaum netters -begitu para pengguna internet ini disebut- adalah ketergesaan. Mereka tak punya cukup waktu -apalagi berlama-lama di situs yang membosankan.
Boleh jadi, isi situs cuma disesaki "kumpulan pajangan" yang kita tawarkan. Bahkan mereka dipajang sebagai sangat menyakitkan mata. Sehingga ketika calon (pembeli) melihat "pada pandangan pertama" kontan jengah. Bukan mau kepada Anda, tapi malah mau muntah melihat situs Anda. Maka, periksa kembali penampilan situs Anda. Apakah dapat membuat setiap calon (pengunjung) betah berlama-lama melongok-longok situs Anda. Atau, kontan kabur ketika melihat isinya yang sangat menyakitkan pandangan mereka.
Sebelum situs Anda memiliki banyak pengunjung, tentulah perlu dicarikan upaya agar setiap calon (pengunjung dan kemudian pembeli) mengetahui alamat situs di internet. Ingat kita ini bukan satu-satunya yang membuka bisnis dan toko di internet. Ada jutaan orang dengan situs lainnya yang menginginkan hal sama dengan kita. Yakni, meraup keuntungan dari dunia maya internet. Jutaan orang berebut "maya.' Apakah kita termasuk "maya" yang direbutkan jutaan orang? Itulah sesungguhnya tujuan yang perlu dicapai. Yakni situs bisnis online kita menjadi rebutan jutaan netters.
Mailing List
Dari mana memulainya? Cara sederhana -sebagaimana dilakukan juga dalam berbisnis di dunia nyata- undang sebanyak mungkin calon pengunjung untuk melongok situs online Anda. Mulailah dengan mengundang semua pacar Anda, calon pacar Anda, maupun mantan pacar Anda (yang masih berhubungan baik tentunya). Bisa juga mantan suami atau istri. Kalau belum jangan segera dijadikan mantan tentuya. Tapi, memberitahukan kepada semua teman, sahabat, kolega, saudara, kakek-nenek, bapak-ibu, paman-bibi, kakak-adik, ipar, mertua dan semua
|
|