Internet Marketers

internet's posts with tag: bisnis tipu-tipu

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bisnis tipu-tipu
Blog EntryMoralitas berbisnisJan 23, '08 9:13 PM
for everyone
sak niki jaman edan
gak melu edan, gak keduman

namung sak edan-edane jaman
lewih becik dadi wong waras

Jayabaya


Paul Samuelson, nama ini tentu tidak asing buat seseorang yang pernah mengambil matakuliah Pengantar Ilmu Ekonomi, mengatakan unsur dasar pembentuk organisasi sebagai pelaku ekonomi terdiri atas 3M: Man, Money, Machine (Manusia, Uang, dan Mesin). Sebagai pelaku ekonomi, penghematan (efisiensi) -hal yang sesuai kaidah dasar ekonomi yakni berupaya sekecil mungkin untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin- menjadi tolok ukur keberhasilan bagi siapa pun yang bergiat dalam lahan ekonomi.


Tapi apakah bidang hidup ini yang tidak tersentuh dengan kegiatan ekonomi? Bahkan aktivitas ranjang pun yang bersifat personal -kata sejumlah aktivis ultrafeminisme- bentuk lain dari pelacuran yang dilembagakan. Sebagai salah satu unsur dari berbagai kegiatan budaya, ekonomi atau sistem matapencaharian tentu tak dapat dilepaskan dari unsur budaya lain: Religi, Bahasa, Kemasyarakatan, Kesenian, Politik, dan Pendidikan.

Sebab, Ekonomi menyatu pula unsur budaya lain, tentu pulalah tolok ukur keberhasilan seseorang dalam Ekonomi mencerminkan Religi, Politik, Kemasyarakatan, dan Pendidikan yang bersangkutan. Apabila kemudian dari semula 3M menjadi 7M antara lain dengan adanya perhitungan unsur Moral, tentu pencapaian keberhasilan seseorang maupun kelompok individu dalam kegiatan Ekonomi, menimbang pula soal Moral.

Moralitas pelaku ekonomi di mana pun di dunia ini -baik di dunia maya maupun nyata- menjadi tolok ukur sesungguhnya dari integritas, bonafiditas, kredibilitas, bahkan akuntabilitas. Dari unsur awal 3M itulah banyak pelaku ekonomi khilaf. Apalagi disertai ketamakan dan ketiadaan  penaruh religi dan moeralitas atas kehidupan sehari-hari pelaku  ekonomi yang bersangkutan.

Misalkan, guna meraup keuntungan segunung, Anda melakukan penindasan terhadap seluruh manusia -kecuali diri Anda karena merasa bukan sebagai manusia. Jadi yang mengaku manusia yang bekerja kepada Anda hampir pasti diperas habis. Bak kerja rodi. Sehingga keuntungan maksimum tercapai dalam tempo sesingkat-singkatnya. Jika mereka berdemo menuntut hak mereka, Anda akan tenang dan masa bodoh. Sebab, Anda percaya, bantuan segera datang baik dari kepolisian maupun aparat lain.  Anda aman. Sementara buruh yang telah Anda peras habis tak tahu ke mana lagi mencari utangan buat beli makanan di rumah. Apa Anda harapkan mereka merampok Anda?

Anda pun bisa mendatangkan keuntungan luar biasa dengan cara memaksimalkan sedemikian rupa setiap penggunaan peralatan dan perlengkapan kerja tanpa henti. Anda tak perduli terhadap perawatan peralatan dan perlengkapan kerja. Sebab, biaya perawatan mahal. Sehingga ketika digunakan, peralatan dan perlengkapan rusak semua. Lift yang mestinya normal, tiba-tiba macet. Semua penumpang terkunci di dalam. Atau, tower crane yang mestinya sudah apkir, terus-menerus Anda kerahkan. Biar saja buruh harian yang dijebloskan ke penjara karena crane tersebut rubuh menimpa seorang pengendara sepeda motor dan seorang pengendara mobil berkebangsaan asing yang melintas di bawahnya. Toh, Anda masih bisa menikmati keuntungan.

Begitu pula pesawat terbang yang Anda sewa dan operasikan. Karena mahal, perawatan seirit mungkin. Selama masih bisa terbang biar saja tidak perlu masuk bengkel perawatan, begitu instruksi kepada seluruh bawahan Anda. Nanti kalau pesawat jatuh, cepat-cepat kontak aparat yang berkaitan. Minta mereka segera membantu membuatkan pernyataan pers bahwa pesawat tersebut masih laik terbang.  Bereslah sudah. Soal adanya korban, Anda kan bisa berkata, "Masak bayar murah mau terbang terus."

Anda pun bisa saja meraup untung luar biasa dengan cara memainkan keuangan perusahaan. Mestinya utang yang jatuh tempo Anda bayar, duitnya Anda paki dulu berjudi di Christmas Island. Waktunya ditagih, pakai dulu saja uang kas kantor yang tersisa. Toh, kantor milik Anda ini. Mestinya kredit usaha cuma perlu Rp 500 juta, karena Anda punya kenalan direktur bank, pagu kredit naik jadi 500 milyar. Lebihnya kan bisa bagi-bagi. Kalau nanti macet, ya, namanya juga usaha, kan bisa untung, bisa rugi. Tenang sajalah. Perusahaan boleh rugi besar. Tapi, Anda sebagai pengusaha tentu masih bisa untung luar biasa.

Nah, praktek bisnis tidak jujur ini ternyata merembes ke internet. Melalui apa yang mereka gembar-gemborkan sebagai "para penjual gajah melalui internet." Mereka menggelitik para pengguna internet dengan menawarkan solusi menjadi kaya dan cepat. Tanpa bekerja keras. Cukup tiap hari kirim e mail dan menipu orang lain agar mengikuti jalan yang telah Anda tempuh dan teman, saudara, keluarga, bapak, ibu, dan lain sebagainya.

Praktek bisnis ini sebagaimana dijelaskan sebelumnya oleh Enda Nasution dan Amalia E. Maulana, sungguh sangat merusak seseorang yang sungguh hendak menjadi pemasar internet (internet marketer) ataupun pengusaha di internet (netpreuner). Menjadi kaya tanpa keras. Macam apakah etos kerja yang hendak dibangun oleh praktek bisnis macam itu? Hanya dengan menipu banyak orang agar mengikuti langkah Anda, mereka pun akan menikmati setoran orang lain yang mau Anda tipu.

Benar, buat banyak orang uang sebesar Rp 30 ribu atau Rp 50 ribu barangkali tiada arti. Tapi, jika jumlah tersebut mencapai 2 ribu tentu menjadi besar  juga. Kalau Anda menipu satu atau dua orang yang Anda tahu persis siapa orang dan keluarganya, apabila suatu waktu Anda sadar jika keliru, tentu dengan mudah Anda menemui mereka dan meminta maaf. Tapi, ini di internet dan dalam jumlah banyak. Apa Anda sudi mengembalikan Rp 30 ribu atau Rp 50 ribu  kepada satu per satu oargn yang pernah Anda tipu tersebut.

Ah, ini tidak menipu kok? Kata siapa? Coba perhatikan bisnis yang Anda praktekkan. Anda sebagai "atasan" (upline) tentu akan mencari mangsa yang sudi menjadi "bawahan" (downline). Anda iming-iming bawahan Anda supaya mengikuti bisnis Anda. Yakni, cukup hanya membayar katakan saja Rp 30 ribu, Anda akan beri tahu kiat sukses berbisnis di internet hanya melalui komputer yang terkoneksi dengan internet di rumah. Kalau setuju, Anda kirim e-Book via email.  Begitu seterusnya.

Apa isi e-Book tersebut? Ya, itu tadi, beragam kiat menipu orang lain agar tertarik membeli e-Book yang Anda jual. Tentu saja Anda mesti menutupi niat sebenarnya kepada setiap calon korban. Kalau Anda buka sedari awal, tentu saja tidak ada seorang waras pun yang mau bekerja sama dengan Anda untuk menipu orang lain. Karena Anda sudah tidak waras, tentunya Anda perlu mencari orang lain yang tidak waras lagi untuk membeli tawaran Anda itu.

Secara pribadi, silakan saja seseorang melakukan hal tersebut. Saya sungguh tidak peduli. Ajak saja seluruh anggota keluarga Anda, teman, kolega, dan sebangsa Anda. Namun, perlu kalian ingat, internet memiliki jejak rekam yang baik. Ketika kalian sudah dikenal sebagai penipu -yang menjual kursus ataupun e-Book berisikan panduan menipu orang lain- citra itu tak semudah dugaan Anda untuk menghapusnya.

Kami akan ingatkan terus hal itu kepada banyak orang. Kami tak akan melupakan kalian. Sungguh.


Avian Dewanto

Penulis pernah menjadi reporter dan redaktur di Majalah Ekbis "Dagang dan Industri" Kadin Indonesia (Jakarta), Majalah Ekbis "Prospek" (Jakarta), dan Harian "Media Indonesia" (Jakarta). Punya pengalaman membangun beberapa perusahaan -termasuk perusahaan event organizer di Jakarta. Saat ini, masih bergiat sebagai penulis dan sedang mengembangkan diri sebagai pebisnis internet (netpreuner) dan pemasar internet (internet marketer).

Sejak 1996 penulis pindah rumah dari kota kelahiran dan dibesarkan, DKI Jakarta, ke Malang, Jawa Timur. Setelah 10 tahun melaju Malang-Surabaya-Jakarta, pada 2007 lalu bergiat di Malang dan membangun internet marketing business.

After all, "I believe internet could give everyone a chance to grab a better life. That benefit of the internet is not for peoples in big city only, I believe in it too."




© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help