internet's posts with tag: nukman luthfie
Sebelum internet melanda Indonesia. penerbitan berkala kerapkali menjadi satu-satunya sumber resmi berbagai instansi pemerintah. Dan, sampai kini pun hampir tiap lembaga Pemerintah di tingkat Pusat sampai dengan Pemerintah Daerah memiliki penerbitan berkala tersebut. Penerbitan tersebut dapat dikatakan berkala karena tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak.
Sewaktu masih menjadi wartawan kira-kira lima belas tahun lalu, saya pernah diundang bagian kehumasan sebuah departemen. Isi undangan menghadiri lokakarya penerbitan majalah berkala di departemen tersebut. Semua biaya akomodasi dan transportasi bahkan diberikan honor segala untuk sebuah lokakarya yang berlangsung tiga hari, berangkat Jumat pulang Minggu. Tempatnya pun bolehlah. Di sebuah resor di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.
Beberapa teman wartawan yang kerap meliput di departemen tersebut ternyata juga ikut serta lokakarya tersebut. Kami berangkat bersama dengan kendaraan yang disewa khusus untuk kami, para wartawan. Usai shalat, Jumat kami meluncur naar boven. Sesampai di resor, tentu saja, kami tak langsung mengikuti kegiatan lokakarya. Kami beristirahat dulu.
Acara lokakarya kabarnya baru akan dibuka nanti malam setelah makan malam dan ramah tamah. Acara nanti malam hanya pembukaan semata oleh Kepala Humas yang mewakili Bapak Menteri. Katanya kegiatan lokakarya baru akan berlangsung keesokan pagi sekitar pukul 10-an, kata salah seorang staf Humas Departemen yang mengundang kami.
Singkat kata, keesokan pagi, usai makan pagi yang berlangsung sampai pukul 10 lewat kami masih disilakan berisitirahat sejenak. Dan, istirahat sejenak ini sampai dengan makan siang. Kami para wartawan bertanya-tanya kapan lokakarya dimulai. "Nanti setelah makan siang," kata salah seorang staf Humas Departemen tersebut.
Tentu saja kami bosan menunggu. Beberapa rekan berinisiatif meminjam kendaraan untuk berputar-putar di kawasan Puncak. Boleh juga gagasan ini. Maka jadilah kami menikmati pemandangan dan berbelanja ala kadarnya serta kembali sekitar waktu makan siang. Lantas kapan lokakarya dimulai? Katanya sehabis makan siang. Semua bahan lokakarya sedang digandakan. Kami diminta beristirahat lagi seusai makan siang.
Akhirnya sore pun tiba. Kami dikumpulkan di sebuah aula. Di meja tampak tumpukan kertas yang saya duga bahan lokakarya. Sembari ditawari minuman hangat dan camilan, salah seorang staf Humas Departemen tersebut membuka kegiatan lokakarya tersebut. Panjang lebar dia menggambarkan rencana penerbitan majalah berkala Departemen tersebut. Sampai akhirnya, dia memberikan kesempatan kepada kami para wartawan memberikan masukan.
Kami benar-benar tidak tahu harus memberikan komentar apa pun. Bahan yang tadi dibagikan kepada kami sudah dibaca tuntas sampai persis titik komanya. Karena kami memang tak tahu harus bicara apa pun, akhirnya tak seorang pun di antara kami berkomentar. Dan, staf Humas Departemen tersebut dengan segera mengistirahatkan acara dengan beralasan memberikan waktu kepada kami untuk berdiskusi sejenak di luar agenda lokakarya. Dia berharap setelah itu kami dapat memberikan masukan.
Sampai makan malam pun tiba, tak ada satu pun di antara kami, para wartawan, yang tahu hal yang perlu disampaikan dalam lokakarya ini. Hal itu kami sampaikan terus terang kepada staf Humas Departemen tersebut yang tadi membuka dan memimpin acara lokakarya tersebut. "Tak perlu kuatir jika tak ada satu pun masukan dari Bapak-bapak wartawan, kami kan sudah menyiapkan perencanaan penerbitan. Nanti sesampai di Jakarta kan kita bisa berdiskusi lagi," katanya dengan tenang. Jadi? "Ya, nanti setelah makan malam, acara lokakarya ini kita tutup saja."
Nah, lima belas tahun kemudian, saya membaca sebuah blog berjudul e-Government yang Abai Komunikasi Online yang ditulis oleh seorang teman baik saya, Nukman Luthfie. Begini isinya:
Ketika diundang oleh Badan Informasi dan Komunikasi (BIP) Partai Golkar untuk menjadi salah satu pembicara di seminar nasional mengenai e-Government, saya sempat ragu. Topik apa yang harus saya bawakan? Bukankah e-gov bukan hal baru? Apalagi selain saya, yang diundang sebagai pembicara adalah guru besar UGM, Gubernur serta Walikota. Namun karena panitia mengatakan bahwa mereka membutuhkan suara baru dari praktisi yang justru belum pernah bicara soal e-gov, saya akhirnya menyatakan setuju dan langsung melakukan riset kecil.
Hasil riset kecil itulah yang saya paparkan tadi pagi di kantor pusat Partai Golkar di Slipi, Jakarta.
Pertama, Indonesia secara berturut-turut masuk peringkat memalukan di kancah global. Hasil riset Universitas Waseda menunjukkan, Indonesia “dengan bangga” duduk di peringat 29 selama 2006 dan 2007, kalah dari Filipina, Brunei, bahkan Afrika Selatan!
Ada enam kriteria yang digunakan untuk pemeringkatan tersebut. Yakni Network Preparedness, Required Interface-Functioning Application, Management Optimization, Homepage /portal situation, CIO, Promotions of e-Government. Meski demikian, untuk masing-masing kategori pun Indonesia tidak masuk 10 besar.
Saya sudah banyak membaca komentar sinis bahwa e-gov itu proyek korupsi, menghabiskan miliaran rupiah tapi hasilnya hanya tampilan web yang dikerjakan asal-asalan. Maka suara itu juga yang saya sampaikan di depan kader muda Golkar. Namun karena yang mengundang adalah badan yang bertanggungjawab terhadap informasi dan komunikasi, maka saya juga menelaah e-gov dari sisi komunikasi.
Maka, hal kedua yang saya sampaikan adalah: e-gov boleh saja dibangga-banggakan oleh para gubernur atau kepala daerah, namun setelah saya riset kecil, hampir semua portal e-gov memiliki cita rasa desain yang sama! Yakni desain web generasi bahula, yang terbagi atas tiga kolom, persis desain Detikcom yang tidak berubah sejak 1998, dengan warna-warna pucat. Sangat tidak menarik untuk dipandang, apalagi dijelajahi! Maka, saya menduga (tanpa dukungan data statistik) lebih dari 70% pengunjung hengkang begitu melihat halaman pertama.
Ketiga, portal e-gov tidak mengerti bahasa komunikasi. e-Gov sesungguhnya ditujukan untuk tiga segmen yang berbeda. Yakni sesama pemerintah (G2G), penduduk (G2C) dan kalangan bisnis (G2B). Setiap segmen memiliki karakteristik masing-masing. Celakanya, e-gov Indonesia berbicara dengan bahasa yang sama kepada ketiga audience tersebut. Hal inilah yang tidak dilakukan oleh pemerintah New York maupun singapura.
Kedua pemerintahan itu tahu, bahwa masing-masing audience membutuhkan fitur dan cara komunikasi yang unik. Itu sebabnya, begitu masuk ke portal e-gov Singapura maupun New York, pengunjung disediakan menu sesuai dengan audiencenya (government, citizen & residence, business, non-residence). Begitu masuk ke masing-masing menu, Anda akan merasakan betapa banyaknya fasilitas online yang dipersembahkan untuk pengunjung. Tidak heran jika mereka berdua selalu berada di posisi satu dan dua e-gov terbaik dunia.
Maka di akhir presentasi saya berpesan kepada yang hadir di seminar itu agar mereka berperan aktif menyadarkan walikota, gubernur dan lembaga lain, jika ingin membangun e-gov yang berhasil, jangan hanya memperhatikan faktor IT, infrastruktur, tetapi juga SDM, komunikasi dan pemasaran. Singapura dan New York sudah memberikan contoh yang menawan di bidang e-gov.
Dikutip dari : Nukman Luthfie
Selesai membaca blog tersebut saya kontan teringat dengan cerita saya tentang lokakarya yang ditulis sebelumnya. Apakah yang kita harapkan sebagai hasil kerja para birokrat yang memang tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola suatu media komunikasi? Baik hal itu pembuatan situs internet yang dikenal dengan istilah mentereng e-gov saat ini maupun pelaksanaan penerbitan berkala. Semua dilakukan dalam semangat yang sama dan dalam ketidakpahaman yang sama.
Lantas kalau Pak Nukman ini muring-muring melihat penampilan situs berbagai Lembaga Pemerintahan Republik Indonesia, ya, apa mau dikata: Memang itulah kerja maksimal para Pengelola Negara yang dicapai. Tak jauh beda dengan cara mereka mengelola banjir, kebakaran hutan, berncana alam, pengangguran, kasus korupsi BLBI, dan sebagainya.
Saya cuma berangan-angan kapan lagi mendapat undangan lokakarya. Bisa saja kan kali ini diselenggarakan lokakarya bertema: Perencanaan dan Restorasi Situs e-Gov. Barangkali saja. Namanya barangkali kan tentunya masih angan-angan. Sebagaimana juga banyak pihak yang mengangankan keberadaan Situs e-Gov dapat benar-benar berfungsi sebagai saluran komunikasi para pihak (stakeholders): Masyarakat, Politisi, Birokrasi Pemerintah Daerah, dan jangan lupa, para pengusaha dan investor. Jangan sampai mereka yang berniat menanamkan modal mebuka usaha di suatu daerah malah disulitkan dengan ketiadaan informasi mutakhir yang memadai.
Nah, sekali lagi, yang bernama impian itu toh sesuatu yang tidak terlarang. Apalagi untuk sesuatu yang dapat bermanfaat bagi banyak pihak.
Pak Nukman, blog Anda telah benar-benar membawa saya ke lima belas tahun lampau. Sesuatu yang semestinya sudah saya lupakan.
Avian Dewanto
sak niki jaman edan gak melu edan, gak keduman
namung sak edan-edane jaman lewih becik dadi wong waras
Jayabaya
Paul Samuelson, nama ini tentu tidak asing buat seseorang yang pernah mengambil matakuliah Pengantar Ilmu Ekonomi, mengatakan unsur dasar pembentuk organisasi sebagai pelaku ekonomi terdiri atas 3M: Man, Money, Machine (Manusia, Uang, dan Mesin). Sebagai pelaku ekonomi, penghematan (efisiensi) -hal yang sesuai kaidah dasar ekonomi yakni berupaya sekecil mungkin untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin- menjadi tolok ukur keberhasilan bagi siapa pun yang bergiat dalam lahan ekonomi.
Tapi apakah bidang hidup ini yang tidak tersentuh dengan kegiatan ekonomi? Bahkan aktivitas ranjang pun yang bersifat personal -kata sejumlah aktivis ultrafeminisme- bentuk lain dari pelacuran yang dilembagakan. Sebagai salah satu unsur dari berbagai kegiatan budaya, ekonomi atau sistem matapencaharian tentu tak dapat dilepaskan dari unsur budaya lain: Religi, Bahasa, Kemasyarakatan, Kesenian, Politik, dan Pendidikan.
Sebab, Ekonomi menyatu pula unsur budaya lain, tentu pulalah tolok ukur keberhasilan seseorang dalam Ekonomi mencerminkan Religi, Politik, Kemasyarakatan, dan Pendidikan yang bersangkutan. Apabila kemudian dari semula 3M menjadi 7M antara lain dengan adanya perhitungan unsur Moral, tentu pencapaian keberhasilan seseorang maupun kelompok individu dalam kegiatan Ekonomi, menimbang pula soal Moral.
Moralitas pelaku ekonomi di mana pun di dunia ini -baik di dunia maya maupun nyata- menjadi tolok ukur sesungguhnya dari integritas, bonafiditas, kredibilitas, bahkan akuntabilitas. Dari unsur awal 3M itulah banyak pelaku ekonomi khilaf. Apalagi disertai ketamakan dan ketiadaan penaruh religi dan moeralitas atas kehidupan sehari-hari pelaku ekonomi yang bersangkutan.
Misalkan, guna meraup keuntungan segunung, Anda melakukan penindasan terhadap seluruh manusia -kecuali diri Anda karena merasa bukan sebagai manusia. Jadi yang mengaku manusia yang bekerja kepada Anda hampir pasti diperas habis. Bak kerja rodi. Sehingga keuntungan maksimum tercapai dalam tempo sesingkat-singkatnya. Jika mereka berdemo menuntut hak mereka, Anda akan tenang dan masa bodoh. Sebab, Anda percaya, bantuan segera datang baik dari kepolisian maupun aparat lain. Anda aman. Sementara buruh yang telah Anda peras habis tak tahu ke mana lagi mencari utangan buat beli makanan di rumah. Apa Anda harapkan mereka merampok Anda?
Anda pun bisa mendatangkan keuntungan luar biasa dengan cara memaksimalkan sedemikian rupa setiap penggunaan peralatan dan perlengkapan kerja tanpa henti. Anda tak perduli terhadap perawatan peralatan dan perlengkapan kerja. Sebab, biaya perawatan mahal. Sehingga ketika digunakan, peralatan dan perlengkapan rusak semua. Lift yang mestinya normal, tiba-tiba macet. Semua penumpang terkunci di dalam. Atau, tower crane yang mestinya sudah apkir, terus-menerus Anda kerahkan. Biar saja buruh harian yang dijebloskan ke penjara karena crane tersebut rubuh menimpa seorang pengendara sepeda motor dan seorang pengendara mobil berkebangsaan asing yang melintas di bawahnya. Toh, Anda masih bisa menikmati keuntungan.
Begitu pula pesawat terbang yang Anda sewa dan operasikan. Karena mahal, perawatan seirit mungkin. Selama masih bisa terbang biar saja tidak perlu masuk bengkel perawatan, begitu instruksi kepada seluruh bawahan Anda. Nanti kalau pesawat jatuh, cepat-cepat kontak aparat yang berkaitan. Minta mereka segera membantu membuatkan pernyataan pers bahwa pesawat tersebut masih laik terbang. Bereslah sudah. Soal adanya korban, Anda kan bisa berkata, "Masak bayar murah mau terbang terus."
Anda pun bisa saja meraup untung luar biasa dengan cara memainkan keuangan perusahaan. Mestinya utang yang jatuh tempo Anda bayar, duitnya Anda paki dulu berjudi di Christmas Island. Waktunya ditagih, pakai dulu saja uang kas kantor yang tersisa. Toh, kantor milik Anda ini. Mestinya kredit usaha cuma perlu Rp 500 juta, karena Anda punya kenalan direktur bank, pagu kredit naik jadi 500 milyar. Lebihnya kan bisa bagi-bagi. Kalau nanti macet, ya, namanya juga usaha, kan bisa untung, bisa rugi. Tenang sajalah. Perusahaan boleh rugi besar. Tapi, Anda sebagai pengusaha tentu masih bisa untung luar biasa.
Nah, praktek bisnis tidak jujur ini ternyata merembes ke internet. Melalui apa yang mereka gembar-gemborkan sebagai "para penjual gajah melalui internet." Mereka menggelitik para pengguna internet dengan menawarkan solusi menjadi kaya dan cepat. Tanpa bekerja keras. Cukup tiap hari kirim e mail dan menipu orang lain agar mengikuti jalan yang telah Anda tempuh dan teman, saudara, keluarga, bapak, ibu, dan lain sebagainya.
Praktek bisnis ini sebagaimana dijelaskan sebelumnya oleh Enda Nasution dan Amalia E. Maulana, sungguh sangat merusak seseorang yang sungguh hendak menjadi pemasar internet (internet marketer) ataupun pengusaha di internet (netpreuner). Menjadi kaya tanpa keras. Macam apakah etos kerja yang hendak dibangun oleh praktek bisnis macam itu? Hanya dengan menipu banyak orang agar mengikuti langkah Anda, mereka pun akan menikmati setoran orang lain yang mau Anda tipu.
Benar, buat banyak orang uang sebesar Rp 30 ribu atau Rp 50 ribu barangkali tiada arti. Tapi, jika jumlah tersebut mencapai 2 ribu tentu menjadi besar juga. Kalau Anda menipu satu atau dua orang yang Anda tahu persis siapa orang dan keluarganya, apabila suatu waktu Anda sadar jika keliru, tentu dengan mudah Anda menemui mereka dan meminta maaf. Tapi, ini di internet dan dalam jumlah banyak. Apa Anda sudi mengembalikan Rp 30 ribu atau Rp 50 ribu kepada satu per satu oargn yang pernah Anda tipu tersebut.
Ah, ini tidak menipu kok? Kata siapa? Coba perhatikan bisnis yang Anda praktekkan. Anda sebagai "atasan" (upline) tentu akan mencari mangsa yang sudi menjadi "bawahan" (downline). Anda iming-iming bawahan Anda supaya mengikuti bisnis Anda. Yakni, cukup hanya membayar katakan saja Rp 30 ribu, Anda akan beri tahu kiat sukses berbisnis di internet hanya melalui komputer yang terkoneksi dengan internet di rumah. Kalau setuju, Anda kirim e-Book via email. Begitu seterusnya.
Apa isi e-Book tersebut? Ya, itu tadi, beragam kiat menipu orang lain agar tertarik membeli e-Book yang Anda jual. Tentu saja Anda mesti menutupi niat sebenarnya kepada setiap calon korban. Kalau Anda buka sedari awal, tentu saja tidak ada seorang waras pun yang mau bekerja sama dengan Anda untuk menipu orang lain. Karena Anda sudah tidak waras, tentunya Anda perlu mencari orang lain yang tidak waras lagi untuk membeli tawaran Anda itu.
Secara pribadi, silakan saja seseorang melakukan hal tersebut. Saya sungguh tidak peduli. Ajak saja seluruh anggota keluarga Anda, teman, kolega, dan sebangsa Anda. Namun, perlu kalian ingat, internet memiliki jejak rekam yang baik. Ketika kalian sudah dikenal sebagai penipu -yang menjual kursus ataupun e-Book berisikan panduan menipu orang lain- citra itu tak semudah dugaan Anda untuk menghapusnya.
Kami akan ingatkan terus hal itu kepada banyak orang. Kami tak akan melupakan kalian. Sungguh.
Avian Dewanto
Penulis pernah menjadi reporter dan redaktur di Majalah Ekbis "Dagang dan Industri" Kadin Indonesia (Jakarta), Majalah Ekbis "Prospek" (Jakarta), dan Harian "Media Indonesia" (Jakarta). Punya pengalaman membangun beberapa perusahaan -termasuk perusahaan event organizer di Jakarta. Saat ini, masih bergiat sebagai penulis dan sedang mengembangkan diri sebagai pebisnis internet (netpreuner) dan pemasar internet (internet marketer).
Sejak 1996 penulis pindah rumah dari kota kelahiran dan dibesarkan, DKI Jakarta, ke Malang, Jawa Timur. Setelah 10 tahun melaju Malang-Surabaya-Jakarta, pada 2007 lalu bergiat di Malang dan membangun internet marketing business.
After all, "I believe internet could give everyone a chance to grab a better life. That benefit of the internet is not for peoples in big city only, I believe in it too."
| |