internet's posts with tag: ratna indraswari
Innalillahi wa innalillahi rojiun,
Telah berpulang ke rahmatullah: Gindarto Danardono (Alumnus SMA Negeri 8 Jakarta Tahun 1980.)
Kemarin, Kamis, sahabatku sejak di SMA Negeri 8 Jakarta telah berpulang. Hari ini, Jumat tadi, jasadnya telah dibaringkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Bintaro, Jakarta.
Aku memang tak sempat takziah ke Jakarta. Tapi, aku yakin, dengan segala perbuatan baik yang dilakukan Almarhum semasa hidup akan membawa dirinya ke sisi Allah SWT.
Selamat jalan sahabatku, Gindarto Danardono. Aku yakin akan menyusul pula. Cepat atau lambat, waktuku kan tiba jua.
Tulisan yang aku buat ini sudah selesai ditulis sebelum mendengar berita tentang wafatmu. Tapi dorongan menulis tulisan ini sebagian karena rasa bersalah yang tak terhingga karena kealpaan mengatur waktu. Seharusnya aku mampu bertahan melakukan silahturahmi cara lama: Tatap muka. Tapi itu tak aku lakukan. Bukan menyalahkan diri ini karena keranjingan internet. Tapi, karena aku saja yang memang tak tahu diri. Maafkan aku.
Avian Dewanto
+++++
Sekitar 1994, saat mulai membangun bisnis properti di Surabaya, saya banyak menghabiskan waktu, tentu saja, di Surabaya daripada di Jakarta. Kalau masih banyak pekerjaan yang belum selesai di hari Jumat, dan malas pulang ke Jakarta, pada akhr pekan, saya menyempatkan bertandang ke beberapa teman lama di Malang. Maka jika tak pulang ke Jakarta, jadiah saya kongkow bersama beberapa teman lama di Kota Malang. Lumayanlah. Bertemu teman lama yang kebanyakan berprofesi sebagai seniman dan bergiat di Dewan Kesenian (Kota) Malang.
Macam-macam seni yang mereka geluti. Kebanyakan Seni Lukis. Pembicaraan pun seputar kegiatan seni lukis. Kadang pembicaraan mengenai kegiatan seni lainnya: Teater dan Seni Pertunjukan. Sayangnya sedikit sekali di antara temanku ini yang menggeluti seni tulis-menulis -kalau enggan dikatakan sastra. Padahal di sebuah kota berbudaya jika seni sastra atau tulis-menulis tak berkembang, hampir dapat dipastikan kesenian lain pun terimbas. Sebab siapa yang sudi menulis tentang kegiatan kesenian dan budaya di suatu kota apabila bukan warganya sendiri.
Berharap penulis daerah lain menulis tentang sesuatu di luar daerahnya, tentu saja sulit. Tapi, Malang masih beruntung. Komunitas Pelangi di bawah pimpinan Mbak Ratna Indraswari Ibrahim di Jalan Diponegoro, Malang, masih terus bergeliat. Masih ada yang yang dapat diberitakan.
Pada tahun itu pula, saya teringat beberapa teman yang bergiat di DKM mendapatkan pekerjaan -lebih tepat dikatakan sebagai proyek- merancang jejeran kios pedagang kaki lima (PKL) yang menjual makanan dan minum. Menarik diskusi mereka. Dari mulai perencanaan arsitektur bangunan sampai dengan biaya yang akan ditanggung Pemkot dan masing-masing PKL.
Tapi, ada yang lebih menarik buat saya daripada hal teknis semacam itu. Yakni, aturan yang melarang tegas para PKL bertempat tinggal di tempat mereka berjualan. Aturan ini, kata yang menggagasnya, menghindari tempat berjualan menjadi kumuh. Para penggagas itu pun bersikukuh, sikap dan perilaku para PKL tersebut perlu pula berubah. Mereka perlu menyisihkan antara waktu pribadi dan berusaha. Gagasan itu dalam kalimat lebih mentereng: Guna meningkatkan profesionalitas para PKL dalam bekerja dan berusaha.
Gagasan tersebut sungguh menarik. Bagaimana pengusaha -meskipun Pedagang Kaki Lima tetap saja mereka pengusaha dan perlu mendapat perhatian. Karena membayar pajak kepada Negara dan retribusi kepada Pemkot yang setoran mereka ini kerap dikorup- secara disiplin mengatur waktu antara bekerja (baca: berusaha) dan kegiatan lain di luar bekerja. Toh, sebagai manusia -apa pun profesi yang ditekuni- butuh sosialisasi dan rekreasi. Bahasa awamnya, tiap orang butuh bertemu dengan orang lain dan suasana lain.
Bayangkan saja -silakan Anda ambil waktu untuk membayangkannya sendiri- jika seseorang tiap hari dari mulai terbit matahari sampai tengah malam hidup hanya mengurusi usahanya. Tanpa waktu tersisa untuk diri sendiri, keluarga, silahturahmi dengan orang lain, bahkan tak punya waktu sekadar menyehatkan mata melihat pemandangan langit. Sibuk bekerja di sepanjang waktu, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Bahkan sebagaimana sudah terbukti di sejumlah kios PKL lainnya, beranak pinak pun mereka lakukan di kios mereka. Sebesar apa pun kios tersebut, tentu saja melakukan hubungan suami istri di kios bisa jadi "kabar burung menarik" buat banyak orang. Iya, kalau itu burungnya sendiri. Bagaimana kalau burung orang lain? Maksudnya kalau yang melakukan itu sebagai suami istri, masih oke. Tapi, bagaimana kalau yang melakukan kegiatan rekreatif seksual tersebut bukan suami istri? Tambah runyam lagi. Sebab, lambat laun kios makanan dan minuman berubah fungsi menjadi rumah bordil.
Alasan penolakan PKL agar dapat bertempat tinggal di kios juga bisa dibilang "masuk akal." Entah akalnya siapa. Tapi jelas menurut saya, sih, akal-akalan saja. Sebab, dengan beranak pinak di kios tersebut, mereka katanya dapat menghemat ongkos transpor. Apabila tidak tinggal di kios PKL sendiri, tentu mereka perlu menghitung sewa rumah (apabila masih sewa) dan transpor harian pulang pergi dari rumah ke kios. Tapi semua alasan tersebut tidak digubris. Bagi PKL yang tidak setuju, silakan tidak mendaftar. Bagi yang setuju untuk tidak menggunakan kios sebagai rumah tinggal, silakan daftar. Terkadang bersikap tegas dalam menegakkan peraturan diperlukan.
Repotnya peraturan terpaksa perlu dibengkok-bengkokan lantaran ada kepentingan politik di dalamnya. Ngono, yo, ngono, yen ojo ngono. Apa sih? Gak mudeng banget. Nah, kalau bangsa Indonesia mau maju, sebaiknya mulai terbiasa mengatakan, "Call a spade, a spade." Mumpung Presiden kali ini suka banget kosa kata asing, Anda silakan kasih tahu istilah tersebut kepada Beliau. Atau, kalau Anda tak sempat, kirim SMS yang pernah digembar-gemborkan itu yang kini tak jelas juntrungannya.
Jangan sampai hanya berlagak berkantor di Surabaya selama dua hari untuk menuntaskan pembayaran ganti rugi (benar-benar merugikan semua orang di Jawa Timur lho) tapi sampai sekarang pun tak jelas mana gantinya. Yang ada hanyalah kerugian secara kasat mata. Kerugian moral dan material yang diderita rakyat akibat semburan liar galian Porong.
Apa karena tak enak sama Bos yang dulu membayari biaya kampanye? Lagi-lagi kepentingan politik diri sendiri kan. Perkara rakyat menderita, ya, sabodo amat. Yang penting selama jadi politikus, bisnis tambah jadi sejahtera dan merambah ke mana-mana. Perkara kesejahteraan rakyat? Kami dulu dong yang sejahtera. Kalau kami sejahtera tentu dengan sendirinya rakyat sejahtera. Sebab, ketika pemilu nanti uang hasil bisnis bisa untuk menyejahterakan rakyat. Rakyat siapa? Ya, rakyatnya sendiri. Rakyat lainnya, ya, gigit jari sajalah. Salahnya sendiri, kata mereka, kenapa kalian tak jadi rakyatKu? Makanya sebagai rakyat, harus pandai-pandailah, jangan sesekali memilih partai atau ada nama politikus yang busuk macam itu. Sekali lagi, kita bukan rakyat mereka.
Karena PKL itu rakyat, maka mereka pun mengikuti peraturan. Jika dilarang beranak pinak dan tinggal di kios, mereka rela menuruti kebijakan tersebut. Sampai hari ini setelah lebih dari sepuluh tahun, peraturan tersebut tetap ditegakkan. Dan, Anda boleh tanyakan kepada semua PKL yang berjualan di sana. Apakah kegiatan mereka di luar berjualan? Mereka bisa menggunakan waktu luang setelah berjualan di Pulosari untuk berbagai hal. Termasuk silahturahmi dan rekreasi bersama keluarga. Dan, kios mereka benar-benar terkelola tertib dan bersih. Tak ada tanda-tanda kekumuhan. Kecuali karena memang sudah berusia sepuluh tahun lebih, ada baiknya jejeran kios PKL di Pulosari tesebut dipugar. Biar tambah lebih keren dan kinclong.
Sebagai pengusaha tentu saja memiliki waktu yang lebih luwes dibanding sebagai karyawan. Maksudnya kalau karyawan datang pukul 7.30, pengusaha datang setengah jam lebih pagi. Dan, kalau karyawan pulang pukul 16.30, maka sang pengusaha keluar kantor dua jam kemudian. Terserah mau berbuat apa saja di kantor. Namanya juga pengusaha. Mau seharian marah-marah sama seluruh karyawan satu per satu, tidak apa-apa. Silakan saja. Tapi, bila keesokan hari, seluruh karyawan mengundurkan diri, jangan dihalangi. Siapkan saja pesangon mereka. Anda sebagai pengusaha tentu mampu mengerjakan semua sendirian -tanpa bantuan karyawan yang Anda gaji tiap bulannya.
Memberi pekerjaan kepada banyak orang, itulah watak mulia pengusaha. Tentu saja pengusaha tersebut baru menjadi mulia tatkala benar-benar setelah memberikan pekerjaan -dan sebelum keringat para karyawan luntur- pengusaha mulia tersebut sudah siapkan hak para karyawan. Sebaliknya sangat tidak mulia bagi pengusaha yang suka memainkan hak para karyawan -apa pun alasannya. Hak karyawan selalu disunat demi mendapatkan keuntungan luar biasa. Atau, dengan sengaja memberikan pekerjaan tanpa imbalan memadai. Nah, pengusaha semacam ini tentu sangat tidak mulia. Dan, boleh jadi, patut dibina -lengkapnya dibinasakan.
Nah, disiplin diri dalam mengelola waktu dalam bekerja ( dan berbisnis), silahturahmi dan kegiatan rekreatif, tentu saja menjadi tantangan tiap orang. Waktu 24 jam sehari tentu saja tidak semua dijatahkan bagi kepentingan bekerja semata (apalagi jika Anda masih kuliah atau sedang mencari pasangan). Kalau semua waktu yang ada cuma untuk kerja, kerja, kerja dan kerja. Tentu akan merepotkan banyak orang. Menghidupkan selalu cinta kepada pasangan diperlukan. Baik yang sudah maupun belum berkeluarga. Katanya, cinta itu tak dapat hidup dari waktu yang tersisa.
Apa pun alasan Anda untuk tak menyediakan waktu: quality of time atau apa, kek. Itu tak lebih cuma cara untuk membohongi diri sendiri. Itu sekadar alasan guna menutupi jika Anda memang tak punya waktu untuk pasangan ataupun buah hati Anda. Kalau cinta? Ya, bilang saja masih punya. Perkara cinta Anda sudah Anda bagi-bagikan kepada banyak orang di luar rumah, siapa yang tahu? Susah amat, sih. Perkara buah hati cuma dapat ketemu sejam sehari itu pun cuma seminggu sekali -sementara untuk yang di luar rumah selalu tersedia waktu- soal lain.
Biar pun anak-anak lebih banyak dibesarkan di tangan pembantu, urusan lain lagi. Pokoknya quality of time. Tahu-tahu anak-anak terlibat narkoba, ya, namanya juga quality of time. Apa-apa kasih yang berkualitas aja. Termasuk narkoba. Sebab anak-anak selalu mencoba mencari perhatian dan kasih sayang orangtua. Tanpa tahu cara mereka keliru. Namanya juga anak-anak. Anda mau anak-anak Anda seperti itu. Kasih saja quality of drugs.
Bisnis di internet
Sejak awal 90-an, revolusi yang terjadi akibat penggunaan internet oleh dunia bisnis, kian merangsek dan nyata. Meski pada awalnya, pada 1990an, tak banyak perusahaan di Indonesia yang langsung beradaptasi dengan internet -karena jaringan telekomunikasi yang payah sampai sekarang. Ingat berapa lama pengguna internet berakses Telkom Speedy tak bisa menghubungi pemberi kerja di luar negeri? Meski kini memasuki milenium baru, tetap saja akses internet di Indonesia masih payah.
Namun, tanpa perduli layanan penyedia akses internet yang tidak juga mendapatkan kemudahan dari Pengelola Negara, sebagian besar pengusaha dan perusahaan telah menyadari arti penting internet bagi kelangsungan bisnis mereka. Hal ini pun merembes ke para pengusaha kecil dan menengah di Indonesia. Apabila tahun 2008 ini diprediksi ada 30 juta pengguna internet di Indonesia dan 1% di antaranya menggunakan internet sebagai wahana dalam berbisnis, tentu dapat dibayangkan besaran pelaku bisnis yang berasal dari Indonesia. Ada 300 ribu. Sebuah angka yang menggiurkan. Dan, Anda tentu termasuk salah seorang di antaranya. Itu kalau 1% saja. Bagaimana jika ternyata angka tersebut lebih besar dari itu?
Jika di awal tadi ada cerita PKL yang diminta agar tidak menjadikan kios tempat berjualan sekaligus sebagai tempat tinggal dan beranak pinak. keberadaan internet justru menjadi antitesis dari anggapan sebaiknya tempat tinggal dan berbisnis terpisah agar sang pebisnis dapat mendisiplinkan waktu yang tersedia 24 jam sehari tersebut ke dalam berbagai kegiatan. Tak hanya bekerja atau bisnis melulu. Tapi, perlu pula waktu untuk berhubungan sosial, silahturahmi dengan keluarga, serta aktivitas sosial dan rekreatif lainnya. Membaca blog juga termasuk kegiatan rekreatif lho.
Nah, kehadiran internet ini justru menjungkirbalikkan fenomena sosial: Bekerja itu di kantor. Kini, di jaman internet (bukan indomi telor kornet) bekerja bisa dari rumah -atau dari mana saja dan kapan saja sepanjang terkoneksi dengan internet. Tanpa ada batasan waktu dan geografis. Maka menjamurlah bisnis yang dapat dikelola dari rumah yang menggunakan fasilitas online.
Hampir semua pekerjaan dan bisnis dapat dilakukan dari rumah. Dan, di rumah dalam arti kata sesungguhnya. Lewat berbagai situs online, Anda dapat menjual ataupun membeli hampir apa pun yang Anda mau beli atau jual. Termasuk jika Anda berniat menjual diri Anda sendiri. Cuma saja kalau yang terakhir itu yang akan Anda lakukan, sebaiknya dipikir lagi.
Tanya dulu sebelumnya apa masih ada yang tertarik dengan kemolekan atau kekekaran tubuh Anda. Soalnya, bukan apa-apa. Jangan-jangan nanti banyak orang yang membaca penawaran Anda itu ternyata semua mantan Anda. Nah, mereka itu sudah mantan dan tahu banget luar dalam diri Anda. Pastilah mereka enggan dan bilang kepada koleganya. Setidaknya mereka akan malu punya mantan yang menjual diri di internet. Jadi, sekali lagi, Anda pikir-pikir dululah, kalau mau membuat malu banyak orang meskipun sudah mantan. Punya malu untuk melakukan hal itu jauh lebih mulia. Apa Anda sudah tidak punya kemaluan sama sekali? Memangnya Anda buang ke mana?
Tidak berarti pula berbisnis di internet itu sekadar membeli sebuah e-Book (yang berisikan panduan agar orang lain berbuat serupa dengan Anda) kemudian Anda sontak kaya raya. Sebab, kata jaringan penjual e-Book tersebut, uang mengalir dengan sendirinya ke rekening Anda. Waspadalah terhadap penawaran bisnis cara itu. Anda pelajari dengan teliti. Jangan pula terlitas di benak Anda, "Ah, cuma uang segitu aja, kok." Kehilangan uang segitu tak ada artinya jaman sekarang. Coba kalikan uang itu dengan lima atau enam angka di belakang 10. Atau, setidaknya Anda baca dulu blog Enda Nasution, Amalia E. Maulana, dan Avian Dewanto.
Internet marketing business bukan itu. Meskipun para penipu itu menggunakan internet sebagai sarana penyebaran hal yang merugikan banyak orang -karena itu disebut penipuan. Tentu saja yang mereka lakukan sungguh berbeda dengan Anda yang memiliki bisnis yang halal. Artinya jika suatu saat pembeli bertandang ke tempat usaha Anda, memang usaha Anda benar-benar nyata. Bukan tipu-tipu. Kalau Anda memasarkan baju dan asesoris memang Anda berjualan barang dagangan tersebut.
Demikian pula, jika pelanggan Anda hendak melihat tempat kerja Anda, memang benar-benar ada dan nyata. Anda dan saya menggunakan internet hanya sebatas perluasan pasar. Dari tadinya pemasaran cuma sebatas teman, tetangga kiri-kanan rumah dan kelompok arisan maupun satu wilayah, kita gunakan internet untuk menjangkau calon pembeli yang lebih luas. Kalau bukan karena niat itu, buat apa saya dan Anda capek-capek di depan komputer. Lebih baik keliling kompleks perumahan, barang dagangan sudah laku terjual. Capek deh.
Tentu saja, manfaat keberadaan internet ini -terutama untuk kepentingan ekonomi dan bisnis- dapat beragam bagi setiap perorangan maupun kelompok perorangan. Di Bengalor, India, kaum perempuan baik ibu rumah tangga maupun gadis (dan jangan lupa janda juga tentunya) mendapatkan pekerjaan alih daya (outsourcing) sebagai petugas call centre. Mereka tidak lantas beralih profesi sebagai call girl atau call woman.
Kaum perempuan di Bengalor tersebut bekerja untuk suatu perusahaan internasional sebagai petugas yang menyampaikan pesan penawaran barang dagangan yang dijual perusahaan tersebut. Mereka ada yang dibayar berdasarkan basis jam kerja. Ada pula yang dibayar berdasarkan panggilan yang sukses (succeed call). Tapi, sekali lagi mereka bukan wanita panggilan lho.
Tentu saja, India bukan Indonesia. Dan, penduduk India punya banyak keberuntungan dibanding penduduk Indonesia. Jika di Indonesia jarang bertemu orang yang fasih berbahasa Belanda lantaran politik diskrimininasi ketat yang diterapkan Belanda selama 350 tahun lebih menjajah Indonesia. Di India banyak sekali penduduk yang paham berbahasa Inggris (India adalah salah satu anggota Negara Persemakmuran -bekas jajahan Inggris).
Jika Inggris memberikan garansi setelah kemerdekaan India tetap mendapatkan bantuan -terutama dalam bidang pendidikan. Belanda malah membawa semua bahan pendidikan terpenting yang menjadi hak bangsa Indonesia ke museum mereka. Sehingga sampai sekarang kalau mau belajar sejarah Indonesia, Anda sebaiknya minta visa dulu ke Kerajaan Belanda. Sebab, hampir semua naskah penting dan peninggalan milik bangsa Indonesia ada di sana. Makanya, pejuang HAM Munir berniat pergi ke Belanda pun untuk mengambil doktor. Meskipun niatan itu malah menjadikan Beliau pulang tinggal nama. Sementara orang yang menggagas pembunuhan Munir pun sampai kini pun masih berkeliaran dengan jumawa.
Lantas bagaimanakah sebaiknya membagi waktu berbisnis di internet? Ya, sama saja sebagaimana ketika Anda mendisiplinkan diri dalam berbisnis sebelumnya di dunia nyata. Kecuali Anda belum pernah berbisnis sebelumnya dan langsung membuka bisnis online. Ini bisa repot banget. Tanpa pengetahuan dalam mendisiplinkan diri bekerja dan berbisnis di dunia nyata, tiba-tiba harus berdisiplin diri dan waktu mengarungi dunia maya. Ya, kalau maia mau saja diarungi Anda, bereslah perkara. Kalau maia ogah, bagaimana? Maya siapa sih?
Yang terpenting lagi di sini, kemauan keras -istilah asingnya persistence dan determination. Kalau Anda sudah memutuskan dan meneguhkan hati mengarungi bisnis di internet, sebaiknya buat jadual ketat yang harus Anda patuhi. Dan, ingat, jangan sesekali Anda langgar atau kompromikan. Atau, Anda membuat waktu menjadi fleksibel. Jika itu yang terjadi, maka tiap detik di setiap hari yang Anda miliki akan termakan di depan komputer menjelajahi internet. Dan, Anda jelas lupa akan segalanya -termasuk waktu. Apalagi Maia.
Saya pernah mengalami hal itu. Maksudnya bukan melupakan dunia maya -apalagi melupakan Irene Maya Aurida. Tapi, saya justru pernah sulit melepaskan diri dari ajakan untuk terus-menerus menjelajahi Maya, eh, dunia maya internet. Hal ini lantaran salah seorang teman saya, Reaz Hoque, seorang Disc Jockey dan Party Organizer yang bermukim di Boston, Mass, USA, memberi saya pekerjaan. Yakni, memberitahukan sekaligus mengundang sebanyak mungkin orang untuk bergabung dengan pesta yang dia selenggarakan. Istilah asingnya, saya menjadi poster. Bukan lembaran yang suka ditempel di dinding. Tapi, istilah ini menunjukkan pekerjaan di internet sebagai penyampai pesan -umumnya dalam kampanye email ataupun meletakkan pesan iklan di beberapa situs sosial dan komersial.
Teman saya Reaz -kami berkenalan melalui situs sosial di internet- itu memang kreatif. Sejak menjadi mahasiswa undergraduate (sekarang sedang ambil graduate and post graduate degree), dia sudah rencanakan untuk menjual keterampilan serta koleksi piringan cd yang dimiliki sebagai disc jockey dan party organizer. Jadi, kalau Anda kebetulan mampir ke Boston boleh jadi Anda bisa bertemu Reaz. Setidaknya Anda dapat membaca potongan selebaran yang dia tempel di papan pengumuman di beberapa kampus di seputar Boston.
Atau, paling tidak tanya saya dulu sebelum bertemu untuk ikut pesta yang dia selenggarakan. Soalnya tiap kali merencanakan sebuah pesta, sayalah yang bertugas untuk dia. Saya mengirim email untuk mengundang sebanyak mungkin orang datang ke pestanya. Tentu saja, saya mendapatkan imbalan dari dia atas usaha saya ini. Besarnya? Rahasia dong. Tapi, lumayanlah.
Hanya saja ketika pertama kali, kami bekerja sama, dan saya sudah melakukan tugas, Reaz kesulitan mengirim imbalan kepada saya. Sebab, besar imbalan buat saya tak sebanding dengan biaya kirim lewat transfer bank ataupun Western Union. Dan, dia agak malas antri di bank untuk transfer uang. Maunya semua pekerjaan bisa dilakukan lewat laptop tanpa keluar kondominium tempat tinggalnya.
Lagi pula, masak untuk honor sebesar US$ 150, saya harus rela dipotong US$ 40 sebagai biaya kirim ke Indonesia. Akhirnya, kami berdua sepakat. Uang imbalan saya digunakan untuk keperluan lain saja (antara lain, untuk membayar tagihan saya di e-bay). Sampai dengan kira-kira Februari tahun ini, setelah paypal resmi bisa menerima pembayaran internet di perbankan Indonesia, Reaz masih mengurusi pembayaran saya ke e-bay (untuk setiap transaksi yang saya lakukan). Saya beruntung punya teman sebaik Reaz.
Nah, apakah saya juga beruntung punya saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air? Maksudnya, apakah kita sebagai sebuah bangsa yang bernama Indonesia punya kesadaran bersama untuk menjaga kepercayaan yang diperoleh dari keberadaan paypal di Indonesia. Benar paypal bukan satu-satunya alat pembayaran di internet. Paypal setidaknya yang masih aman dan sah di internet.
Tapi, semakin meluasnya pengguna paypal di internet, membuka kesempatan bagi mereka yang berniat buruk. Meski belum tentu hanya orang Indonesia saja yang melakukan kecurangan (fraud) di internet. Tentu saja secara bersama-sama kita perlu menjaga kepercayaan tersebut. Ingat, sampai sekarang Indonesia termasuk negara yang dicurigai banyak melakukan kecurangan dalam penggunaan kartu kredit. Apakah kita -sebagai internet marketer- akan melepaskan kepercayaan yang telah dibuka paypal kepada Indonesia? Lain lubuk lain ikannya. Benar itu. Kita memang unik sebagai perorangan. Tapi, dalam hal hukum, kita punya kedudukan sama. Apalagi di dunia internet. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup sesal kemudian.
Dalam menjaga kepercayaan yang diberikan Reaz tersebut, saya hampir benar-benar lupa waktu. Selain harus belajar secara cepat cara pengiriman kampanye email ke banyak alamat, saya pun harus belajar menghindari peringatan (flag) dari situs yang saya kirimi pesan (iklan teselubung). Lupa waktu di muka komputer yang terkoneksi dengan internet, sungguh-sungguh godaan berat bagi setiap pebisnis di internet -bak yang bergiat sebagai netpreuner maupun internet marketer.
Meski secara resmi saya berbisnis di internet sejak 2007 lalu, namun setahun sebelumnya, saya sudah melakukan memelajari kemungkinan berbisnis di internet. Bahkan pada 1996, ketika pindah rumah ke Malang, saya sempat mendirikan usaha kecil-kecilan sebagai software house. Hanya saja lantaran ketiadaan waktu mengelola secara penuh -dan sepenuhnya bisnis diserahkan ke pekerja yang masih anyar- cikal bakal berbisnis di internet pun kandas. Apalagi setelah bisnis properti hancur lebur. Seluruh modal pun habis tersita. Untung saja tak sampai jual celana dalam akibat krismon.
Meski pada 2006, saya masih melaju Malang-Jakarta-Malang, sepenuhnya apabila berada di Malang, saya berselancar di internet. Sungguh lupa waktu dan lupa akan teman. Jaringan saya yang semula di dunia nyata benar-benar berubah menjadi maya. Meski memang saya menjadi lebih dekat dengan Maya -Irene Maya Aurida- maksudnya, tapi terus terang ada semacam kerinduan bertatap muka dalam berbicara. YM memang menghadirkan fasilitas itu. Tapi bagaimana pun aroma berbicara tatap muka, buat saya, lebih merindukan. Masak terasa sih kalau beradu mulut dengan Maya di dunia maya? Gak kan?
Cuma satu hal yang dapat mengeluarkan diri saya dari keinginan berada terus di muka komputer: Saya masih punya kewajiban kepada Allah. Sebab, kepada-Nya kelak saya berpulang. Dan, semasih di dunia ini saya mendapatkan oksigen cuma-cuma, perlulah saya berterima kasih kepada-Nya -dengan melakukan amar mahruf nahi munkar. Saya melakukan dengan kesadaran penuh. Sebab saya tak mengehendaki jika suatu saat saya harus membeli oksigen dan baru tersadar: ternyata Allah benar-benar ada. Dan, baru tersadar harus berterima kasih. Gak deh!
Sungguh, secara pribadi, internet telah mengubah pola hidup dan pertemanan saya. Namun, barangkali itulah pengorbanan yang perlu saya tempuh. Termasuk hanya menunggu kabar tentang kawan lama. Saya sungguh yakin internet dapat menjadi wahana bagi orang Indonesia kebanyakan untuk mengubah peruntungan.
Hanya bangsa yang memiliki kecerdasan, pengetahuan, dan keterampilan yang bakal keluar sebagai pemenang dalam era globalisasi. Dan, dalam dunia maya, globalisasi sungguh telah terjadi. Kreativitas menjadi kata kunci bagi siapa pun untuk meraih piala kemenangan dalam globalisasi. Makanya, ketika Marie Pangestu -sebagai Menteri Perdagangan RI- mengatakan Pemerintah akan menyusun kebijakan bagi pengembangan industri kreatif, sungguh hati ini membuncah. Tapi, itu tak lama saja. Sebab, setelah mengetahui makna lebih dalam kalimat seorang politisi yang mengatakan "baru akan menyusun kebijakan" tentu saja Pemerintah akan butuh sekian generasi untuk menyelsaikan susunan kebijakan tersebut. Belum pula pelaksanaannya. Jangan berharaplah ada para politisi kalau mau memajukan industri kreatif di Indonesia.
Memajukan industri kreatif di Indonesia bukan perkara mudah. Perlu dukungan memadai pendidikan dasar sampai universitas guna menumbuhkan elan kreativisme. Benar di antara bangsa di Asia Tenggara, bangsa Indonesia memiliki keragaman budaya yang kaya. Tapi, itu bukan jaminan tetap begitu adanya tanpa adanya upaya nyata memertahankan keragaman budaya. Apalagi jelas industri kreatif secara langsung akan membebaskan rakyat dari tekanan politik mana pun. Rakyat akan merdeka dengan kreativisme mereka. Apa sudah sudi para politikus kehilangan pamor? Lantas, apa keuntungan bagi kepentingan pribadi para politikus itu sendiri?
Jangan harap kebijakan memajukan industri kreatif di Indonesia akan segera dapat terwujud. Bu Marie, Anda benar-benar seorang pemimpi yang tengah bergumam. Kalau Malaysia dengan sengaja dan terarah memajukan industri kreatif mereka, itu sudah menjadi keputusan politik Negara dan Rakyat. Anda memang kerap bertandang ke Malaysia bersama suami. Tapi, itu tak berarti apa yang terjadi di sana, dapat secara langsung dicangkokkan di Indonesia. Memberi perlindungan kepada para pahlawan penyumbang devisa saja tidak becus, mau bicara soal industri kreatif pula. Ampun deh.
Karena itu, apabila Anda sebagai pengusaha -yang harus taat membayar pajak sementara tak tahu menahu ke mana uang pajak itu terpakai oleh para politisi dan birokrat- bertemu salah seorang Pembesar Negeri ini -baik di tingkat paling bawah atau atas sekalipun, tentu setuju dengan saya, yang akan menyatakan dengan tegas: "Celana dalam dan kaus kutang yang kau pakai. Celana dalam dan kutang istri kau saja masih dibeli pakai uang rakyat. Apa kerja kalian? Sombong sana, sombong sini. Urus kepentingan rakyat pun tak becus. Apa kalian pikir kerja kalian sudah selesai begitu mengucapkan hal itu?" Cuih!
Avian Dewanto
Penulis pernah menjadi reporter dan redaktur di Majalah Ekbis "Dagang dan Industri" Kadin Indonesia (Jakarta), Majalah Ekbis "Prospek" (Jakarta), dan Harian "Media Indonesia" (Jakarta). Punya pengalaman membangun beberapa perusahaan -termasuk perusahaan event organizer di Jakarta.
Saat ini, selain masih bergiat sebagai penulis, sedang mengembangkan diri sebagai pebisnis internet (netpreuner) dan pemasar internet (internet marketer). Sejak 1996 penulis pindah rumah dari kota kelahiran dan dibesarkan, DKI Jakarta, ke Malang, Jawa Timur.
Meski baru tahun 2007 lalu bergiat di internet marketing business. After all, "I believe internet could give everyone a chance to grab a better life. That benefit of the internet is not for peoples in big city only, I believe too."
| |