Internet Marketers

internet's posts with tag: toko online

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag toko online
Blog EntryBisnis istriFeb 29, '08 12:49 AM
for everyone
Kerja di Jakarta

Seorang penjahit baju di Haur Geulis, Indramayu, Jawa Barat punya istri nan cantik. Setelah beberapa bulan menikah, di suatu pagi, sang istri mengemasi semua baju dan perhiasannya.

"Mau ke mana?" Tanya sang suami.
"Aku mau ke Jakarta ikut teman," jawab sang istri, "katanya aku bisa dapat Rp 100 ribu semalam kerja di sana."
"Kerja apa Rp 100 ribu semalam?" Tanya suami penasaran.
"Sama seperti di rumah ini," ujar istri, "Di sini gratis. Di Jakarta, aku dibayar."
"Sebentar-sebentar," kata suami sembari menggamit tangan istrinya, "berapa kau kirim aku tiap minggunya?"

*****

Pindah kota dan berhenti bekerja tentu bukan perkara gampang. Apalagi bisnis suami masih baru dibangun. Tambahan pula, suami bekerja di Surabaya yang berjarak 100 kilometer dari Malang. Suami pun pulang Sabtu dan Minggu. Istilah teman-teman di Bandung, "weekend husband." Itu pun tidak setiap minggu pulang ke Malang. Karena di Surabaya suami punya tempat tinggal juga yang sekaligus sebagai kantor bisnis sampingannya. Tapi, apa mau dikata? Keputusan telah diambil.

Ketika anak-anak masih kecil tentu saja kegiatan utama istriku sibuk mengurusi seluruh kepentinan anak-anak. Tapi, saat ini anak sudah semakin besar dan tak mau terlalu diurusi Ibunya. Mereka sudah merasa mampu mengurusi diri masing-masing. Dan, kegiatan mereka di luar rumah pun bertambah lama dan banyak. Pada akhirnya, istriku pun merasa kesepian di rumah sendirian.

Untuk mengisi kelapangan waktu itulah, istriku yang rajin mengikuti berbagai kegiatan sosial pun mulai mencoba berjualan. Barang-barang didatangkan dari Jakarta. Adikku yang perempuanlah yang dititipi untuk membelikan barang dagangan istriku. Tak jarang pula adik-adikku membelikan barang untuk dijual oleh istriku di Malang. Kegiatan istriku pun bertambah banyak. Rupanya perniagaan yang dilakukan lumayan. Maksudnya dari uang belanja yang sejuta bisa bertambah 1 bahkan 2 juta setiap bulan. Itu kalau lagi mujur. Kalau tidak, ya, namanya usaha.

Sampai akhirnya, aku mendapatkan keagenan (reseller) alat latihan tulis baca buat anak-anak TK dari sebuah perusahaan di Jakarta. Itu pun terjadi berkat bantuan seorang teman. Istriku pun beralih jenis mata dagangan. Sebab, berjualan baju dan asesoris makin lama makin banyak pesaing. Pergaulan pun bertambah. Hampir seluruh pengurus TK di Malang dia kenal. Pula hampir semua peserta pameran untuk pendidikan -misalkan, toko buku, penerbit, dan alat edukasi- dia kenal. Sebab, ia rajin mengikuti berbagai pameran dan lomba yang diikuti anak-anak TK.

Sampai suatu ketika pasar tak lagi dapat berkembang. Kecuali istriku mampu melakukan pemasaran ke luar Kota Malang. Tentu saja meluaskan cakupan pasar tak sederhana. Merekrut pegawai secara keuangan memberatkan. Sebab fluktuasi penjualan sangat tinggi. Hasil penjualan tak menutupi biaya operasional. Selain itu, penjualan terbanyak hanya terjadi di awal tahun pelajaran. Setelah itu, penjualan menurun drastis. Kecuali yang belum sempat punya atau sebagai pengganti yang rusak.

Saat itulah, kami berdua berdiskusi untuk mengembangkan pemasaran melalui internet. Sebagai suami yang sedang mengembangkan jasa internet marketing -yang melakukan alih daya (outsourcing) beberapa jasa di internet- saya menyusun perhitungan untuk memindahkan pemasaran offline istri ini menjadi online.

Dari beberapa perhitungan yang dibuat, kami berkesimpulan sebagai beikut:

1. Pemasaran online seharusnya memiliki pula kaidah dasar sebagaimana pemasaran offline. Apabila pemasaran offline memerlukan toko, pemasaran online pun wajib memiliki toko. Toko di dunia nyata itu sebagaimana pemandangan sehari-hari yang kita lihat. Baik toko yang di muka rumah kita maupun di ruko juga di mal ataupun pusat pertokoan.

Pemasaran internet wajib memiliki situs sebagai toko atau dalam bahasa asing disebut online store atau online shop. Jadi apabila berniat sebagai komersial, tentulah bisnis perlu dikelola secara komersial. Sekaliogus menunjukkan profesionalitas sebagai pemasar (marketer) ataupun pengusaha (netpreuner). Lagi pula, keberadaan situs milik sendiri -bukan situs sosial- dapat mengharapkan adanya pemasukan tambahan dari, misalkan, perolehan iklan.

Sebagaimana juga sebuah kios di dunia nyata, ada saja yang mau beriklan di muka kios kita. Apabila kaidah dasar ini tidak diikuti, tentu profesionalitas dan komersialisasi sulit terjadi. Sehingga menggunakan situs sosial untuk berdagang secara komersial menjadi kurang tepat. Ibarat minyak dan air. Pertemanan (hubungan sosial) perlu dikelola secara pertemanan (sosial). Hubungan bisnis (komersial) juga perlu dikelola secara bisnis (komersial).

Dapat dipastikan seseorang akan menemui kesulitan apabia mencampuradukkan antara pertemanan dan bisnis. Sebab, pertemanan dan bisnis layaknya air dan minya. Keduanya harus ditempatkan di wadah masing-masing. Jerigen minyak hanya untuk minyak. Sedangkan air ditaruh di tempayan. Apabila minyak dan air disatukan tentu saja ketika akan memasak, api tak menyala. Ketika akan menjerang, air bercampur minyak. Jadi janganlah mencampur aduk antara pertemanan dan bisnis. Apalagi mertua dan ipar ikut campur. Kalaupun mau cawe-cawe buatlah aturan bisnis yang tegas.

2. Komoditas yang dipasarkan secara online memiliki keunikan dan harga yang sesuai dengan keunikan tersebut. Maksudnya, komoditas yang dipasarkan tak mudah didapat di tempat lain. Itu artinya Andalah pemilik komoditas tersebut. Jika fashion, Andalah desainer dan produsennya. Begitulah kira-kira gambaran besarnya.

Apabila komoditas yang
dijual mudah ditemui di toko online lain, bahkan di pasar dan supermarket biasa, maka kita harus bekerja keras meyakinkan calon pembeli komoditas di internet agar percaya komoditas kita memiliki kualitas jauh di atas rata-rata. Tentu dengan harga yang masuk akal.

Komoditas yang akan dipasarkan secara online oleh istriku memang memiliki keunikan tinggi. Sebab, tidak ada produsen lain. Alat edukasi tersebut dipatenkan. Sehingga tidak akan ada produsen lain yang memasarkan komoditas sejenis. Tapi, kami pun berhitung pula. selain istriku di Malang, ada sejumlah reseller lain di kota lain yang memasarkannya. Sedangkan tujuan kami membuka toko online itu untuk menjangkau pembeli yang berada jauh dari Malang.

Apabila pun terjadi penjualan kepada pembeli di luar Kota Malang, tentu terbentur biaya kirim. Per satuan komoditas menjadi sangat mahal. Kecuali untuk pembelian dalam jumlah banyak. Sedangkan pemasaran dalam jumlah banyak telah dilakukan reseller lain yang berlokasi di daerah tersebut.

Dari kedua pertimbangan tadi, kami berkesimpulan:

(1) kami perlu mengajak reseller lain berinvestasi membuka toko online secara komersial dan tidak menggunakan situs sosial sebagai etalase. Kami pun perlu meyakinkan pemilik komoditas (produsen) menjadi pihak terbesar sebagai penyandang dana.

(2) Penjualan ke daerah mana pun sepanjang ada reseller di lokasi terdekat akan dapat dilayani. Karena dapat bekerja sama dengan reseller lain. Sehingga harga pun menjadi terjangkau meski untuk pembelian satuan.

***

Hari-hari ini istriku pun masih memasarkan alat baca tulis tersebut dari pintu ke pintu. Dia sungguh tak akan pernah mau mengikuti cerita istri penjahit baju dari Indramayu di awal tulisan ini. Dia pun percaya bisnis tak dapat dibangun dalam semalam. Perlu kesabaran dan keuletan dalam menjalankannya. Serta menaati kaidah bisnis dan perhitungan komersial.

Sembari menunggu kabar menggembirakan, saat ini, istriku sudah punya pelanggan. Ada saja rejeki datang berupa pesanan satu atau dua buah setiap minggu. Berharap terjadi penjualan dalam jumlah besar di luar awal sekolah, tentu hanya mimpi. Maka ia pun tahu diri untuk menunggu panen berikut di awal tahun pelajaran.

Apakah komoditas yang Anda
pasarkan secara online telah dikaji secara komersial dan menaati kaidah berbisnis? Tentu Anda sendirilah yang dapat menilai.


Avian Dewanto

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi, pengetahuan yang didapat dari pelatihan dan kursus yang pernah diikuti penulis selama menjadi wartawan ekonomi dan bisnis, serta berbagai buku dan bahan bacaan dari berbagai sumber yang dimiliki penulis.

Penulis pernah menjadi reporter dan redaktur di Majalah Ekbis "Dagang dan Industri" Kadin Indonesia (Jakarta), Majalah Ekbis "Prospek" (Jakarta), dan Harian "Media Indonesia" (Jakarta). Punya pengalaman membangun beberapa perusahaan -termasuk perusahaan event organizer di Jakarta. Saat ini, masih bergiat sebagai penulis dan sedang mengembangkan diri sebagai pebisnis internet (netpreuner) dan pemasar internet (internet marketer).

Sejak 1996 penulis pindah rumah dari kota kelahiran dan dibesarkan, DKI Jakarta, ke Malang, Jawa Timur. Setelah 10 tahun melaju Malang-Surabaya-Jakarta, pada 2007 lalu bergiat di Malang dan membangun internet marketing business.

After all, "I believe
internet could give everyone a chance to grab a better life. That benefit of the internet is not for peoples in big city only, I believe too."

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help